Sabtu 26 Sep 2015 17:35 WIB

Ini Alasan Mengapa Banyak Jamaah Memilih Nafar Awal

Jamaah haji di Padang Arafah
Foto: EPA / AMEL PAIN
Jamaah haji di Padang Arafah

REPUBLIKA.CO.ID, MINA -- Sekitar 60 persen jamaah haji Indonesia akan mengambil nafar awal dengan melakukan lempar jumrah terakhir pada Sabtu (26/9). Gelombang pelemparan jumrah ketiga sudah terlihat sejak Sabtu dini hari saat sebagian jamaah meyakini sudah menyelesaikan mabit di Mina pada hari ke-11 dan ke-12 Dzulhijjah.

Petugas posko di Mina, Suviyanto mengatakan, dari data sementara sampai Jumat (25/9) malam, laporan yang diterima petugas posko menunjukkan keinginan jamaah untuk menyelesaikan kegiatan lempar jumrah lebih cepat.

"Untuk angkanya kita nggak bisa pastikan ada berapa jumlahnya (yang nafar awal), tapi kira-kira 60 persen," kata Suviyanto kepada wartawan Republika, EH Ismail, di Makkah, Arab Saudi.

Zulkifli Harun, jamaah asal Jambi yang tergabung dalam kloter BTH 19 mengatakan, dia dan sebagian rombongan memutuskan untuk nafar awal mengikuti instruksi ketua rombongan. Selain alasan ingin cepat menyelesaikan rangkaian ibadah, kondisi sebagian besar jamaah juga sudah kelelahan.

"Sudah banyak yang capek, makanya ambil nafar awal," kata Zulkifli.

Zulkifli melanjutkan, setelah sampai di pemondokan, jamaah diinstruksikan untuk beristirahat dan tidak melakukan aktivitas yang tidak penting. Setelah stamina jamaah bisa kembali normal, barulah mereka diperkenankan untuk beribadah ke Masjidil Haram.

“Mungkin menunggu bus shalawat beroperasi lagi baru ke Ka’bah lagi," ucap dia. Kusniarti Jauhar Sejamin, jamaah yang tinggal maktab 60 mengaku sudah tak kuat lagi melakukan jalan kaki bolak-balik dari maktab ke jamarat.

Jauhnya jarak dan ketiadaan bus operasional membuat jamaah harus memiliki ketahanan fisik yang tangguh. “Ini kan saya sudah tua, kalau jalan jauh terus begini takut sakit,” ujar jamaah wanita asal Palembang ini.

Guna menghindari berjalan kaki terlalu jauh, sebagian jamaah memilih menggelar tikar dan bermabit di jalan-jalan sekitar jamarat. Petugas jamarat memang menyediakan area-area khusus bermabit yang ditandai dengan marka pembatas jalan.

Namun, jumlah area mabit di dekat jamarat sangat terbatas sehingga jamaah banyak yang mengambil tempat secara acak. Risikonya, jamaah akan diusir petugas keamanan yang ditemani para askar apabila dinilai sudah menghambat arus jalan kaki jamaah.

Sepanjang Jumat sampai Sabtu siang, puluhan ribuan jamaah memadati lokasi jamarat. Kendati demikian, ratusan petugas dan askar mengatur arus jamaah sehingga tidak pernah terjadi kepadatan tepat di lokasi jumrah.

Petugas akan segera membuat simpul barisan manusia untuk menghalau jamaah yang menumpuk. Simpul manusia ini bak tali yang mendorong jamaah menuju ke jalan keluar jamarat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement