Sabtu 21 Jul 2018 06:00 WIB

Fajar di Baqi

Makam Baqi, tempat bersemayam orang-orang luar biasa yang menjemput fajar Islam.

Fajar yang terbit di atas cakrawala Madinah, terlihat dari Makam Baqi.
Foto: Republika/Fitriyan Zamzami
Fajar yang terbit di atas cakrawala Madinah, terlihat dari Makam Baqi.

IHRAM.CO.ID, Laporan Wartawan Republika, Fitriyan Zamzami dari Madinah

Saya tengah menanyakan lokasi Pemakaman Baqi kepada petugas di pintu utara Masjid Nabawi ketika disambangi Ilyas. Dia menebak saya dari Indonesia. Lelaki yang jalannya sudah terbungkuk itu mengajak saya bercakap Melayu. “Mari kita ke sana,” ujar pria asal Trengganu, Malaysia itu sembari membimbing saya.

Atok Ilyas tak pakai terompah di saat pagi buta itu. Sandalnya ia tinggal di pintu bagian barat Masjid Nabawi. “Maaf, saya cakar ayam,” kata dia. Tak mengapa jika saya harus berjalan pelan menyamai langkahnya.

Ternyata, beliau juga pangling. Dia mengatakan, saat mengunjungi Madinah pada 2010 lalu, Baqi belum dikelilingi tembok dan pagar berornamen seperti sekarang. Jadilah kami berdua berkeliaran mencari pintu masuk.

Ketika akhirnya tiba di pintu menuju gerbang Baqi, tangan saya ia rengkuh dan saya dibawanya membaca maklumat berisi anjuran sebelum berziarah. Ada sekutip hadits soal diperbolehkannya melakukan ziarah kubur dan beberapa anjuran dan larangan. “Kita di sini untuk mengingat-ingat kematian sahaja,” ujarnya lirih. Mengira-ngira usianya, saya kira Atok Ilyas bersungguh-sungguh.

photo
Fajar yang terbit di atas cakrawala Madinah, terlihat dari Makam Baqi.

Saat masuk gerbang Baqi, jamaah sudah ramai di situ. Belum lama ada pemakaman. Tapi saya kira bukan untuk itu yang membuat jamaah banyak yang hadir. Mereka datang karena di bawah tanah berbatu yang diratakan di bagian timur kompleks Masjid Nabawi itu, ada tulang belulang Aisyah, Hafsah, dan Saudah, para istri Rasulullah.

Ada Fatimah, Ruqayyah, Zainab, Ummi Kultsum. Seluruhnya putri Rasulullah serta Ibrahim putranya yang meninggal saat masih kecil sekali. Ada Hasan bin Ali, Utsman bin Affan, dan Halimatus Sa’diyah. Makam sejumlah sahabat Rasulullah juga di sana.

Intinya, Baqi bukan pemakaman biasa. Ia adalah juga tempat bersemayam orang-orang luar biasa yang menjemput fajar Islam. Masing-masing punya andil tersendiri bagi agama yang kini dianut sekira 1,8 miliar orang tersebut.

Saya dan Atok Ilyas tak sendirian di Baqi hari itu. Orang-orang sudah menyesaki pekuburan itu untuk mendoakan mereka yang berpulang. Sebagian dengan lekas ditegur askar yang berjaga-jaga ketika nampak mengusap batu-batu di masing-masing pusara yang hanya menonjol sedikit saja di tanah.

Ketika sedang mengamati kuburan-kuburan itu, tiba-tiba, mentari perlahan mengintip di timur cakrawala Madinah. Saya menoleh dan tertegun.

Seumur hidup, saya tinggal di berbagai tempat di Indonesia, dari timur ke barat. Pekerjaan saya di Republika  juga telah memberkahi saya dengan perjalanan ke ujung-ujung Tanah Air, juga ke empat benua.

photo
Jamaah haji mendoakan jenazah para sahabat Rasulullah SAW yang dikuburkan di Pemakaman Baqi, Madinah, Selasa (17/7) pagi. Jamaah haji yang singgah di Madinah mulai menyesaki lokasi ziarah tersebut.

Tapi, wallahi, pemandangan di cakrawala Madinah itu istimewa betul. Ia adalah salah satu fajar paling indah yang pernah saya saksikan.

Ditingkahi ratusan peziarah dan ratusan burung merpati yang bangun beterbangan di atas kuburan-kuburan, semburat jingga itu secara dramatis perlahan mewarnai langit Madinah yang bersih tanpa awan. Latar suaranya, bisikan-bisikan tertahan doa para peziarah dan kepakan sayap burung-burung. Hanya sedikit saja mengganggu keheningan.

Ia bukan hanya dibuat indah oleh citra dan suara, tapi juga konteks dan nuansa tempatnya. Saya membayangkan, seribu empat ratus sekian tahun lalu, Rasulullah Salallahu’alaihiwasallam menengok fajar yang sama dari lokasi serupa tempat saya berdiri. Barangkali sambil mendaraskan ayat Alquran di mana Allah, pemilik semua keindahan alam semesta bersumpah demi fajar.

Saya harus menahan tangan agar tak bertepuk sembari berdiri. Betapa ia pertunjukan yang spektakuler.

Ingin saya kasih tahu sama Atok Ilyas pemandangan itu. Tapi tengok kanan-kiri, ia sudah hilang ditelan kelimun.

Sungguh, Madinah punya banyak cara memicu takzim. Fajar di Baqi itu, hanya satu dari berlaksa-laksa. Semoga Allah Yang Maha Memelihara selalu memberkati kotamu ini, ya Rasulullah. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement