Pengalaman Menumpang Bus Shalawat di Makkah

Rabu , 17 Jul 2019, 12:50 WIB Reporter :Muhammad Hafil/ Redaktur : Hasanul Rizqa
Bus Shalawat.
Bus Shalawat.

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Beberapa orang jamaah haji asal Bangladesh terlihat sedang melakukan tawar-menawar dengan seorang kondektur bus Saptco di Terminal Bab Ali, sebelah timur pelataran Masjid al-Haram, Makkah.

 

Mereka diminta untuk membeli kupon tiket seharga 3 riyal agar bisa diantarkan oleh sopir bus ke pemondokan mereka di kawasan Jamarat atau dekat area melempar jumrah.

Terkait

Mereka sempat meminta kondektur untuk menurunkan harganya. Namun, sang kondektur tegas bahwa jika ingin diantarkan harus membayar sebesar 3 riyal.

Baca Juga

Akhirnya, rombongan jamaah itu harus membayarnya dan dipersilakan naik. Namun, bus itu tak langsung jalan. Sebab, sang sopir masih harus menunggu bus terisi semua terlebih dulu. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk menunggu seluruh kursi di bus itu terisi.

Pemandangan berbeda terlihat tak jauh dari bus Saptco yang sedang ditunggu keberangkatannya oleh jamaah Bangladesh tersebut. Dengan bus berwarna dan perusahaan yang sama, tetapi bus ini ditempeli stiker bertuliskan Indonesia di sebelah kanan dan bendera merah putih di sebelah kirinya.

Jamaah haji Indonesia yang selesai melaksanakan shalat Ashar di Masjid Al Haram, langsung menaiki bus itu. Dan, tak sampai menunggu penuh, bus itu langsung segera mengantar jamaah dari Kloter 1 Batam di kawasan Syisah tersebut.

"Enak, busnya nyaman," kata Darlis jamaah asal Kota Pekanbaru tersebut, awal pekan ini.

Ihram.co.id mencoba menaiki bus yang disebut Shalawat ini dari Masjid Al Haram ke kawasan Syisah. Ruang dalam bus terasa dingin karena ada pendinginnya. Kemudian, di dalamnya bersih dan memiliki pegangan untuk orang yang berdiri.

Meski bus ini tak terlihat terlalu baru, toh cukup nyaman untuk ditumpangi. Sebelumnya, pada Sabtu (13/7), Ihram.co.id mencoba menaiki bus shalawat yang dikelola oleh Rawahil yang terhitung masih sangat baru. Fasilitasnya hampir sama tetapi di bagian belakang memiliki boks yang berisi air minum kemasan.

Bus Shalawat ini memang tujukan untuk melayani jamaah haji Indonesia selama di Makkah dari hotel ke Masjidi Al Haram, pergi-pulang. Jamaah sama sekali tidak dikenakan biaya atas layanan ini alias gratis.

Bus Shalawat yang digunakan minimal pembuatan tahun 2015 dengan kapasitas maksimal 70 orang dan memiliki akses 3 pintu. Bus juga harus dilengkapi AC, global positioning system (GPS), serta alat pemadam kebakaran dan kotak P3K.

Rute bus Shalawat akan melewati seluruh akomodasi jemaah yang terbagi dalam tujuh zonasi di Makkah. Untuk jumlahnya, ada 463 armada bus yang akan disiapkan.

Kepala PPIH Arab Saudi Daker Makkah, Subhan Cholid mengenang munculnya layanan bus Shalawat ini. Layanan bus ini dimulai pada 2008 lalu, di mana  pada saat itu hotel jamaah haji Indonesia ada yang jaraknya lebih dari 10 km dari Masjid Al Haram akibat dimulainya perluasan Masjid Al Haram.

Menteri Agama saat itu, almarhum Maftuh Basyuni pun memerintahkan untuk menyediakan bus untuk mengantarkan jamaah ke Masjidi Al Haram pulang dan pergi. Langkah pertama adalah pemerintah menyewa 600 bus dengan konsekuensi yang terbilang apa adanya, tidak punya sistem, dan tidak punya petugas.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, akhirnya pada tahun 2009 pemerintah Indonesia mulai menjajaki kerjasama dengan Muasassah (Penyelenggara haji di Arab Saudi) untuk layanan angkutan jamaah haji.  Kemudian, untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu, Kementerian Agama Tahun 2010 mulai melibatkan Kementerian Perhubungan.

Sebagai instansi yang bertanggungjawab pada sektor transportasi publik, Kemenhub dapat membagi ilmunya untuk membuat suatu sistem pengendalian transportasi dalam dan luar kota yang akan diterapkan di Arab Saudi. Dari kerjasama itu dirintislah suatu sistem untuk membuat rute sederhana sampai dengan tahun 2012. Hingga saat ini,  pengendalian dan pengawasannya sudah jauh lebih baik dan tersistem.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini