Kolaborasi Kemenkes dan Arab Saudi untuk Jamaah Haji

Kamis , 25 Jul 2019, 09:14 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Hasanul Rizqa
(Ilustrasi) Petugas kesehatan memberi perawatan calon haji yang sakit di Rumah Sakit KKHI Mekkah, Arab Saudi, Minggu (21/7/2019).
(Ilustrasi) Petugas kesehatan memberi perawatan calon haji yang sakit di Rumah Sakit KKHI Mekkah, Arab Saudi, Minggu (21/7/2019).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Upaya Kesehatan Haji Indonesia mendapatkan dukungan khusus dari pihak pemerintah Arab Saudi. Permintaan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk kolaborasi pembinaan, pelayanan, dan perlindungan terhadap jamaah haji Indonesia direspons positif Pemerintah Saudi.

 

Anggota Tim Promotif Prepentif (TPP) Aji Muhawarman mengatakan, bentuk dukungan pemerintahan Arab Saudi terhadap penyelenggaraan kesehatan haji Indonesia antara lain diadakannya edukasi kesehatan bersama. Kegiatan ini diselenggaran secara kolaboratif oleh Tim Promotif Preventif (TPP), KKHI Madinah, dan Rumah Sakit Nasional Tuberkulosis (TB) Madinah.

Terkait

"Pada Rabu (24/7) pagi waktu Arab Saudi, kami melakukan edukasi kesehatan di Hotel Wardah Mubarak, Sektor 4 Madinah," kata Aji seperti dikutip dalam keterangan yang diterima Ihram.co.id, Kamis (25/7).

Baca Juga

Aji menyampaikan, penyuluhan kesehatan ini rutin dilakukan TPP kepada setiap kelompok terbang. Pada kali ini penyuluhan dilengkapi dengan materi khusus tentang penyakit tuberkulosis dan jantung.

Kerja sama edukasi yang baru pertama kali dilaksanakan pada 2019 ini disampaikan kepada ratusan jamaah haji kloter BPN 01 asal Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

"Penyampaian materi diawali dengan imbauan penggunaan alat pelindung diri mulai dari penutup kepala, masker hingga alas kaki," katanya.

Aji mengatakan, penyuluhan dilakukan oleh Esny, seorang petugas kesehatan dari TPP. Kepada jamaah, Esny menganjurkan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Salah satunya dengan membiasakan mencuci tangan pakai sabun dan air bersih yang mengalir.

Jangan sampai jamaah haji mengabaikan PHBS. Sebab, sudah ada beberapa kasus diare yang terjadi pada jamaah di sejumlah kloter.

Tidak kalah pentingnya ialah mencegah dehidrasi dengan cara banyak minum air. Esny juga mencontohkan cara menggunakan air untuk takaran konsumsi oralit.

"Bapak ibu harus sering minum, jangan tunggu haus. Tiap 2-3 jam harus minum. Sehari minum 2-3 liter air," ajak Esny.

Dari pihak Arab Saudi, hadir dr Turki bin Sweilem al-Saadi. Dia adalah seorang dokter spesialis paru dari RS Nasional TB Madinah. Turki menjelaskan tentang penyebab, gejala, dan cara pencegahan TB agar jamaah haji tidak tertular penyakit tersebut.

"Jika Anda batuk (TB) gunakan masker. Termasuk yang tidak batuk pun gunakan masker agar tidak tertular," ujar Turki.

Kata dia, bagi yang memiliki gejala TB antara lain seperti batuk selama dua pekan berturut-turut dan berat badan turun drastis tanpa sebab yang jelas. Maka, jamaah diminta untuk segera memeriksakan diri ke petugas kesehatan.

Turki memastikan, jamaah haji Indonesia tidak perlu cemas. Sebab, Pemerintah Arab Saudi menyediakan layanan kesehatan cuma-cuma. Ia pun turut berpesan kepada jamaah haji yang masih merokok untuk menghentikan kebiasaan buruknya tersebut selama beribadah haji di Tanah Suci.

Seusai menyampaikan materi edukasi kepada jamaah, Turki menyebut pihaknya menghargai upaya edukasi kesehatan kolaboratif seperti ini. Dia pun menyatakan siap bila diminta melakukan pemaparan yang sama kepada jamaah haji Indonesia dari kloter-kloter lainnya.

“Saya sampaikan apresiasi kepada kolega kami atas kolaborasi yang sudah dilakukan sejak tahun lalu. Kami siap untuk bekerja sama lagi,” ucap dr Turki.

 

Penyuluhan soal jantung

Materi penyuluhan kepada jamaah asal Balikpapan dilanjutkan kembali dengan edukasi oleh pihak Indonesia melalui petugas kesehatan dari Kemenkes Indonesia. Dr Az Hafid Nashar SpJP dari KKHI Madinah menyampaikan banyak hal terkait penyakit jantung.

Menurut Hafid, beberapa kasus kematian jemaah haji Indonesia disebabkan oleh penyakit jantung. Pada setiap musim haji, jantung juga sering menjadi penyebab utama kematian. Oleh karena itu, jamaah perlu dibekali pengetahuan tentang penyebab, cara pencegahan dan pengobatannya.

“Tadi saya liat ada beberapa jemaah yang memiliki riwayat penyakit jantung. Yang bahaya jika ada jemaah yang tidak sadar ia mengidap sakit jantung,” ujar dr Hafid.

Saat dimintai tanggapannya, Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusup Singka menyatakan, kerja sama di lapangan antara Kemenkes RI dan pihak Arab Saudi merupakan hal yang perlu ditingkatkan dan dilanjutkan.

“Saya kira pola kerja dan pemahaman tentang pelayanan kesehatan terhadap tamu-tamu Allah antara kedua institusi ini tidak ada perbedaan,” ucap Eka.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini