Senin 13 Apr 2020 19:54 WIB

Sejarah Bus Shalawat

Sejarah Bus Shalawat dimulai sejak 2008 lalu.

Sejarah Bus Shalawat . Foto: Jamaah haji Indonesia saat menggunakan bus shalawat yang membawa mereka dari Masjidil Haram menuju pemondokan di Syisyah (rute no 6),  Makkah, Kamis (1/8). PPIH Arab Saudi 2019 menyediakan sebanyak 450 bus shalawat untuk jamaah haji Indonesia.
Foto: Republika/Syahruddin El-Fikri
Sejarah Bus Shalawat . Foto: Jamaah haji Indonesia saat menggunakan bus shalawat yang membawa mereka dari Masjidil Haram menuju pemondokan di Syisyah (rute no 6), Makkah, Kamis (1/8). PPIH Arab Saudi 2019 menyediakan sebanyak 450 bus shalawat untuk jamaah haji Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Dalam beberapa tahun terakhir, jamaah haji Indonesia akrab dengan Bus Shalawat. Di mana, bus ini merupakan fasilitas transportasi yang digunakan untuk mengantar jamaah haji Indonesia dari hotel/pemondokan ke Masjidil Haram di Makkah dan sebaliknya.

Kepala Subdirektorat Transportasi Haji Direktorat Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag, Subhan Cholid mengenang munculnya layanan Bus Shalawat ini. Layanan bus ini dimulai pada 2008 lalu, di mana  pada saat itu hotel jamaah haji Indonesia ada yang jaraknya lebih dari 10 km dari Masjidil Haram akibat dimulainya perluasan Masjidil Haram.

Baca Juga

"Menteri Agama saat itu, almarhum Maftuh Basyuni  pun  memerintahkan untuk menyediakan bus untuk mengantarkan jamaah ke Masjidil Haram pulang dan pergi. Langkah pertama adalah pemerintah menyewa 600 bus dengan konsekuensi yang terbilang apa adanya, tidak punya sistem, dan tidak punya petugas," kata Subhan kepada Republika beberapa waktu lalu.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, akhirnya pada tahun 2009 pemerintah Indonesia mulai menjajaki kerjasama dengan Muasassah (Penyelenggara haji di Arab Saudi) untuk layanan angkutan jamaah haji.  Kemudian, untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu, Kementerian Agama Tahun 2010 mulai melibatkan Kementerian Perhubungan.

Sebagai instansi yang bertanggungjawab pada sektor transportasi publik, Kemenhub dapat membagi ilmunya untuk membuat suatu sistem pengendalian transportasi dalam dan luar kota yang akan diterapkan di Arab Saudi. Dari kerjasama itu dirintislah suatu sistem untuk membuat rute sederhana sampai dengan tahun 2012. Hingga saat ini,  pengendalian dan pengawasannya sudah jauh lebih baik dan tersistem.

Pada musim haji 2019 lalu, Bus shalawat yang digunakan minimal pembuatan tahun 2015 dengan kapasitas maksimal 70 orang dan memiliki akses 3 pintu. Bus juga harus dilengkapi AC, global positioning system (GPS), serta alat pemadam kebakaran dan kotak P3K.

Rute bus Shalawat akan melewati seluruh akomodasi jemaah yang terbagi dalam tujuh zonasi di Makkah. Untuk jumlahnya, ada 463 armada bus yang akan disiapkan.

photo
Infografis Bus Shalawat - (Republika)

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement