Kemenkes Minta Puskesmas Tetap Layani Pemeriksaan Calhaj

Selasa , 14 Apr 2020, 22:24 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Pemeriksaan calhaj di Puskesmas mengindahkan protokol kesehatan. Ilustrasi kesehatan haji.
Pemeriksaan calhaj di Puskesmas mengindahkan protokol kesehatan. Ilustrasi kesehatan haji.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, Eka Jusuf Singka, meminta pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) ataupun pelayanan pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji (Calhaj), untuk terus berjalan seperti biasa.

 

Terkait

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun jaga jarak (physical distancing) yang terjadi di kota-kota di Indonesia tidak menghalangi kegiatan tersebut.

Baca Juga

“Puskesmas saya sudah tekankan betul, pemeriksaan kesehatan jamaah haji harus tetap jalan,” kata Eka dalam keterangan yang didapat Republika.co.id, Selasa (14/4).

Eka menuturkan, pemeriksaan kesehatan jamaah haji, biasanya menjadi tempat berkumpulnya jamaah yang akan memeriksakan kesehatannya setelah melakukan pelunasan biaya haji. 

Dengan diberlakukan PSBB ini, jumlah jamaah haji yang memeriksakan kesehatannya dibatasi.

"Pengaturan pemeriksaan dilakukan seperti biasanya. Tidak bisa berkumpul yang diperiksa satu atau dua orang saja dan jamnya diatur," lanjutnya.

Eka menjelaskan, virus yang saat ini dikategorikan sebagai pandemi global adalah Corona Virus Desease atau Covid-19. Virus ini terdapat pada binatang, tapi dipindahkan ke manusia. Hampir sama dengan MersCov (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus) yang juga berasal dari keluarga Corona.

Perbedaan Mers dengan Covid-19 ada pada masa transmisinya. Transmisi atau perpindahan Covid-19 jauh lebih cepat dari MersCov yang terlokalisasi hanya di negara Timur Tengah, maupun SARS di wilayah Cina, Singapura, dan Korea.

Untuk calon jamaah haji, Eka meminta harus menjaga kondisi tubuh. Menurutnya, penyakit itu ada dua macam, penyakit menular dan tidak menular. 

Agar calon jamaah bisa mengerjakakan syarat, rukun dan wajib haji, maka kondisi fisiknya harus sehat.

“Maka harus sehat. Untuk penyakit menular dapat diobati dengan vaksin. Seperti meningitis, divaksin saja Insya Allah sudah selesai,” kata dia. 

Untuk penyakit yang tidak menular, kata Eka, pencegahannya hanya dua, yaitu cegah lelah dan cegah dehidrasi. 

Jika dipelajari dengan ilmu epidemologi dan biomolekular, saat tubuh kekurangan air, terjadi ketidakseimbangan cairan tubuh. Kondisi lelah juga akan memicu terjadinya penimbunan asam laktat.

Jamaah haji Indonesia disebut 63 hingga 67 persennya memiliki risiko tinggi. Selain itu tercatat mempunyai penyakit yang tidak menular. Pencegahan dilakukan dengan cegah lelah dan cegah dehidrasi.

“Dalam dakwah kesehatan haji, kita bagimana jamaah haji kita tidak mengalami dehidrasi, karena pangkal utamanya adalah dehidrasi,” lanjutnya.  

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini