Haji di Mata Intelektual Berpendidikan Sekuler Kolonial

Senin , 20 Jul 2020, 04:33 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
suasana haji yang difoto Snouck Hurgronje saat di Makkah.
suasana haji yang difoto Snouck Hurgronje saat di Makkah.

REPUBLIKA.CO.ID, -- Oleh: Dr. Suryadi, MA., Dosen dan Peneliti di Department of South and Southeast Asian Studies, Leiden University, the Netherlands.

 

Terkait

"PERDJALANAN SAJA KE MEKAH" (Weltevreden: Balai Poestaka, 1925; cet. ke-2: 1927), sependek penelusuran kepustakaan saya, adalah "potret rasional" pertama tentang ibadah haji  yang ditulis oleh intelektual Indonesia. Buku ini ditulis oleh Regent Bandung R.A.A. Wiranata Koesoema (sering juga ditulis: Wiranatakosoema) yang bertolak ke Makkah pada 24 Maret 1924. Semula buku ini diterbitkan dalam bahasa Belanda oleh Penerbit N.V. Vorkink di Bandung pada thn 1925. Dan pada tahun itu juga terbit terjemahannya dlm bahasa Melayu yg diusahakan oleh G.A. van Bouvene dan diterbitkan oleh Balai Poestaka di Weltevreden/Batavia.

Sebenarnya, sekitar 5 tahun lebih awal, seorang intelektual Indonesia lainnya juga telah menulis sebuah "laporan rasional" tentang ibadah haji yg dia sendiri telah menunaikannya. Dia adalah Baginda Dahlan Abdoellah asal Pariaman. Dahlan berangkat ke Makkah dari Leiden, kota tempat dia sedang belajar dan bekerja di Universiteit Leiden, pada musim panas 1920.

Dia menulis laporan yg menarik secara bersambung (16 kali) dalam surat kabar DE TELEGRAAF (Amsterdam) yg berjudul "Het dagboek van een Mekka-ganger" (Buku harian seorang penziarah negeri Mekah).

Sayang sekali, dalam waktu yg lama hampir tak ada orang Indonesia yg mengetahui dan memberi perhatian kepada tulisan Dahlan Abdoellah itu. Tulisan itu juga tidak pernah dibukukan oleh penulisnya. Saya sedang mengusahakan penerbitan terjemahan tulisan Dahlan itu untuk pembaca Indoesia yg Insya Allah akan segera terbit.

Kembali ke buku Wiranata Koesoema ini, kiranya sangat menarik untuk Dianalisa lebih dalam. Misalnya, kita bertanya, mengapa beliau, seperti halnya Dahlan Abdoellah, menuliskannya pertama kali dalam bahasa Belanda, bukan dalam bahasa Melayu yang memungkinkannya dapat dibaca secara lebih luas oleh masyarakatnya sendiri?

Ini berbeda dengan Dja Endar Moeda, seorang intelektual asal Sumatra yg juga mendapat pendidikan sekuler dan pada 1900 telah menulis sebuah brosur "petunjuk rasional" yang praktis agar selamat dan sukses dalam melaksanakan ibadah haji.

Dalam buku ini digambarkan bahwa dalam perjalanan ke Makkah Wiranata Koesoema bertemu dengan banyak orang dari wilayah Nusantara lainnya, seperti dari Makassar, Padang, Watampone, dan lainnya. Selama dalam perjalanan beliau berdialog dengan mereka.

Akan tetapi tidak ada dialog yg menyangkut perasaan nasionalisme. Misalnya, Wiranata Koesoema tidak coba untuk mengetahui bagaimana perasaan calon jamaah haji dari Padang (orang Minang) terhadap rekan seperjalannya dari Makassar (orang Bugis), terhadap si Sunda, si Jawa, dan lainnya.

Ada 1.200 orang jamaah di kapal yg ditumpanginya yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang etnis yg berbeda di Hindia Belanda. Oleh karena itu kita kehilangan momen untuk mengetahui apakah sudah ada perasaan ke-Indonesia-an di kalangan ordinary people yabg kebanyakannya illiterate pada awal abad ke-20" itu.

Narasi buku ini, sampai batas tertentu, merefleksikan diri pengarangnya yang konon memiliki kepribadian "paradoks" (Chambert-Loir,, 2013: 556). Hal ini terkesan juga dari keputusannya mengirimkan surat cerai kepada istrinya, Sjarifah Nawawi yg berasal dari Minangkabau, hanya dengan telegram yang dikirimkan ke Bandung dari atas kapal yang ditumpanginya saat kapal itu sudah mendekat ke Laut Merah, sebuah keputusan yg belakangan membuat beberapa intelektual asal Minangkabau, termasuk H. Agus Salim, marah dan kecewa.

Ada kemungkinan teks buku ini di-screening terlebih dahulu oleh otoritas kolonial Hindia Belanda sebelum diterbitkan. Hal-hal yg dianggap membahayakan Rust en Orde tentu akan dipangkas. Kees van Dijk (1978: 82) mengatakan bahwa semula Wiranata Koesoema ingin menuliskan laporan perjalanannya ke Tanah Suci itu secara bersambung di koran DE LOCOMOTIEF (Semarang).

Tapi, Konsul Belanda di Jeddah, Charles O. van der Plas, mengingatkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda agar karangan itu diperiksa terlebih dahulu sebelum diterbitkan supaya tidak menimbulkan masalah dengan Raja Husein/Pemerintah Saudi Arabia nantinya. Dan akhirnya tulisan ini memang tidak pernah jadi diterbitkan di koran utama di Jawa itu.