Rabu 18 Nov 2020 12:00 WIB

Kepanikan Firaun Saat Kedatangan Musa

Kepanikan Firaun Saat Kedatangan Musa.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil
Kepanikan Firaun Saat Kedatangan Musa. Foto:  Sphinx Firaun Ramses II
Foto: Penn Museum Archives via livescience
Kepanikan Firaun Saat Kedatangan Musa. Foto: Sphinx Firaun Ramses II

IHRAM.CO.ID,JAKARTA -- Saat mengetahui Nabi Musa akan pulang ke Mesir, setelah sepuluh tahun berada di tempat pengasingan di kota Madyan Saudi Arabia, Fir’aun dan pembesarnya mulai panik dan gusar. Firaun menilai kehadiran Musa dinilai akan membawa dampak sosial dan politik yang sangat besar hingga berpotensi menggoyahkan singgasananya. 

"Firaun dan pembesarnya akhirnya menunjukan sikap panik mereka dengan menyampaikan provokasi hingga pelecehan kepada Musa, pengikutnya serta rakyatnya sendiri," kata KH Zulkifli Ahmad Jundim Pengasuh Pesantren Tahfizul Qur'an dan Ilmu Hadist Barokah Madinah Al-Minangkabawi Kab.Padang-Pariaman, saat menyampaikan tausiyah online, Rabu (18/11).

Baca Juga

Firaun cs kata KH Ahmad mengatakan, para pejabatnya mulai berkoar-koar di depan publik, dengan mengatakan bahwa Nabi Musa adalah manusia biasa dan pengikutnya hanyalah segelintir orang saja.

(إِنَّ هَؤُلَاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ)

 

"Firaun berkata: 'Sesungguhnya mereka (Bani Israel pengikut Musa) benar-benar golongan kecil."(Al-Syu'ara: 54).

Namun, setelah melihat fakta di lapangan, yang ternyata pengikut Musa sangat banyak dan membludak, maka Firaun cs dan pembesarnya menjadi semakin panik. Mereka pun mulai berusaha menimbulkan antipati publik kepada Musa dan pengikutnya lewat provokasi, dengan mengatakan Musa dan pengikutnya adalah kaum yang fasik.

Ketika merasa gagal dengan provokasinya, karena ternyata simpati publik semakin besar dan tidak terbendung kepada Musa, maka Firaun dan pejabatnya mulai mengancam keselamatan Musa serta mengintimidasi rakyatnya dengan mengatakan bahwa Musa mesti dibunuh, karena punya niat dan maksud jahat kembali ke Mesir, yaitu hendak mengganti agama serta merusak tatanan sosial dan budaya kalian yang telah mapan dan kokoh. 

"Dari Alquran kita tahu, akhirnya Nabi Musa berhasil menumbangkan kecongkakan dan tirani Istana Fir'aun cs," katanya.

Dan itulah di antara kehebatan Alquran, senantiasa relevan dan aktual. Tidak seperti yang dikatakan orang-orang fasik, bahwa Alquran isinya hanyalah dongeng masa lalu (Al-Furqan: 5-6).

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement