Melihat Kemegahan Masjid Agung Aljazair

Ahad , 07 Mar 2021, 23:24 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Muhammad Hafil
Masjid Agung Aljazair, juga dikenal sebagai Djamaa El Djazair, pada malam peresmiannya di ibu kota Aljazair.
Masjid Agung Aljazair, juga dikenal sebagai Djamaa El Djazair, pada malam peresmiannya di ibu kota Aljazair.

IHRAM.CO.ID,ALJIR -- Aljazair tidak memiliki industri pariwisata yang berkembang pesat seperti di negara tetangga, Maroko. Infrastruktur pariwisata di negara ini sering kali dikritik karena terbelakang.

 

Terkait

Meski demikian, negara terbesar di Afrika ini merupakan rumah bagi sejumlah besar permata yang tersembunyi dan menakjubkan. Keberadaan negara ini menampilkan sejarahnya yang panjang dan kaya.

Baca Juga

Selain memiliki atraksi paling menonjol di gurun Sahara, Aljazair memiliki beberapa Situs Warisan Dunia UNESCO yang menakjubkan. Situs-situsnya seolah mengajak pelancong menelusuri warisan Kartago, Romawi dan Islam yang luar biasa.

Aljazair memiliki pantai Middleterranean yang menakjubkan dan murni. Taman bunga maupun taman nasionalnya yang memesona seakan melengkapi kekayaan keajaiban arsitekturnya, yang menggemakan pengaruh Berber, Arab, Ottoman, serta kolonial Spanyol dan Prancis, selaku penghubung masa lalu Aljazair.

Di negara ini, terdapat pula bangunan termahal di Afrika. Bangunan ini merupakan masjid terbesar yang dikenal dengan nama Masjid Agung Aljazair.

Masjid ini berusia kurang dari dua tahun, dengan waktu pengerjaan hampir tujuh tahun. Sebelum selesai pada April 2019, gelar masjid terbesar di Afrika dimiliki Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko.

Dilansir di Middle East Monitor, Ahad (7/3), keputusan untuk membangun masjid terbesar di Afrika ini kemungkinan ada kaitannya dengan persaingan yang mengakar antara Aljazair dan Maroko.

Persaingan ini dimulai setidaknya sejak Perang Pasir 1963 dan diperburuk selama bertahun-tahun. Perbedaan politik atas konflik yang sedang berlangsung di Sahara Barat, membuat kedua negara ini berdiri di sisi yang berlawanan.

Para kritikus melihat masjid ini sebagai proyek kesombongan, yang menghabiskan lebih dari 1 miliar dolar US uang publik. Biaya tersebut dinilai seharusnya diinvestasikan dalam menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan berkelanjutan.

Masjid ini juga dipandang sebagai simbol pemerintahan lama Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika. Sayangnya, orang di belakang proyek itu tidak hadir untuk melihat hasilnya.

Bouteflika dipaksa turun dari kekuasaan pada bulan yang sama pembangunan masjid selesai. Turunnya Bouteflika disebabkan protes massal yang meletus di seluruh negeri, menentang pemerintahan otokratis yang telah berlangsung selama dua dekade.

Ironisnya, sementara Beijing mendapat kecaman dalam beberapa tahun terakhir karena penganiayaan berat terhadap populasi minoritas Muslim Uyghur, masjid itu malah dibangun oleh Teknik Konstruksi Negara China yang didukung negara.

Perusahaan konstruksi tersebut mendatangkan pekerja dari China untuk mengerjakan proyek monumental yang merupakan masjid terbesar ketiga di dunia setelah dua situs paling suci Islam, Masjid Agung Makkah dan Al-Masjid Al-Nabawi di Madinah.

Menampilkan arsitektur geometris dan halaman persegi panjang yang glamor, masjid ini dirancang oleh arsitek Jerman. Dengan tinggi 265 meter, masjid ini membanggakan menara tertinggi di Afrika, menempatkan menara setinggi 210 meter milik Masjid Hassan II Maroko ke posisi kedua. Menara yang digunakan untuk adzan ini, dilengkapi dengan lift dan dek observasi yang menghadap ke ibu kota dan Teluk Algiers.

Interior masjid menawarkan arsitektur Andalusia, didekorasi dengan kayu, marmer dan pualam, serta dihiasi dengan kaligrafi Alquran sepanjang enam kilometer. Sajadah berwarna biru kehijauan yang indah membentang mengalasi masjid. Desain mihrab yang sederhana namun indah menampilkan dua kolom kecil di kedua sisinya.

Diatapi kubah dengan diameter 50 meter, aula utama dapat menampung sekitar 37.000 jamaah. Kompleks keseluruhan, dapat menampung hingga 120.000 jamaah dengan ruang parkir yang cukup untuk 7.000 mobil.

Ada beberapa fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan umat Muslim di sekitar kompleks masjid. Termasuk di dalamnya sekolah Alquran, perpustakaan yang menampung jutaan buku, museum seni Islam, serta pusat penelitian yang didedikasikan untuk sejarah Aljazair.

Strukturnya, dirancang untuk menahan gempa berkekuatan 9.0 magnitude, didukung oleh ratusan pilar dan lengkungan setengah lingkaran.

Sholat umum pertama masjid tidak diadakan sampai malam hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Oktober 2020. Sejumlah kecil jamaah hadir di tengah pembatasan pandemi Covid-19.

Untuk negara yang tidak kekurangan masjid, baik bersejarah maupun baru, keputusan untuk memulai bangunan yang mahal dan ambisius tersebut patut dipertanyakan.

Namun, setiap pihak berharap kehadiran masjid ini akan menjadi pusat teologi, budaya dan penelitian sebagaimana mestinya. Selain itu, diharap dapat menarik lebih banyak pengunjung yang ingin menjelajahi negara yang megah ini. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini