Selasa 06 Apr 2021 10:00 WIB

Tak Mudahnya Lahirkan Alquran Terjemahan Bahasa Rohingya

Proses penafsiran Alquran ke bahasa Rohingya tidak pernah mudah

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani
Alquran
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Alquran

IHRAM.CO.ID, JAKARTA – Muslim Rohingya akan dapat mendengarkan pembacaan Alquran dalam bahasa mereka untuk pertama kalinya. Alquran tersebut akan diluncurkan secara bertahap pada Ramadhan nanti dalam bentuk audio dan video daring.

Aktivis dan Pengusaha Rohingya, Muhammad Noor mengatakan upaya penerjemahan Rohingya di masa lalu tidak lengkap dan sebagian besar dalam bentuk teks yang menggunakan huruf Urdu, Arab atau Latin. Sementara itu, banyak orang Rohingya yang buta huruf. Apalagi kebanyakan orang Rohingya sekarang tinggal di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh. Mereka pun telah kehilangan pendidikan dan pekerjaan selama beberapa dekade.

Diaspora Rohingya, seperti Noor yang orang tuanya melarikan diri dari Myanmar pada 1960-an ke Timur Tengah, telah mencoba menghidupkan kembali budaya dan warisan Rohingya. Kendati bahasa Rohingya diucapkan dan dipahami oleh 1,8 juta orang, format tulisannya seperti alfabet dan kosakata telah mengalami beberapa perubahan selama berabad-abad.

Pada 1980-an, seorang sarjana Rohingya, Maulana Muhammad Hanif yang tinggal di Bangladesh, akhirnya mengembangkan sistem bahasa yang sekarang dikenal sebagai Rohingya Hanifi. Upaya ini untuk membakukan bahasa dan memudahkan orang untuk mempelajarinya.

 

“Yang terjadi adalah orang-orang yang dididik di Pakistan atau India cenderung ke arah terjemahan Alquran dalam bahasa Urdu dan mereka yang lahir dan besar di negara-negara Arab mengandalkan huruf Arab. Tapi kebanyakan orang Rohingya tidak bisa membaca semua itu,” kata Noor.

Noor menambahkan dia ingin menerjemahkan audio dan video dalam bahasa Rohingya agar bisa menjangkau warga Rohingya lain. Dia mengembangkan Unicode untuk bahasa Rohingya Hanifi yang membantu orang berkomunikasi dengan mudah melalui perangkat digital.

Dikutip TRT World, Selasa (6/4), proyek penerjemahan yang didukung oleh perusahaan media Noor, Rohingya Vision dan Toko Buku Dakwah Corner (DCB) yang berbasis di Malaysia, bertujuan untuk mengumpulkan 360 ribu ringgit Malaysia atau sekitar 87 ribu dolar Amerika.

Ini akan menggunakan bacaan bahasa Arab dari almarhum Ulama Sheikh Muhammad Ayyoub yang lahir di Makkah. Pengkhotbah, Qutub Shah yang menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Rohingya adalah mantan mahasiswa teknik mesin yang tidak diizinkan untuk menyelesaikan studinya oleh Myanmar.

Meskipun Alquran telah diterjemahkan ke dalam lusinan bahasa, proses penafsiran tidak pernah mudah. Misal, di negara-negara berbahasa Inggris, terjemahan yang dilakukan oleh Abdullah Yusuf Ali yang dirilis pada tahun 1930-an tetap menjadi salah satu yang paling banyak dibaca 50 tahun kemudian.

Agar sederhana dan mendekati arti sebenarnya, terjemahan bahasa Rohingya akan dibuat kata demi kata dari sampel bahasa Arab dan Urdu. Tentunya, itu tidak akan memiliki penafsiran dalam rilis audio dan video.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement