Potensi Bisnis Layanan Haji dan Umrah Saat Pandemi

Sabtu , 29 May 2021, 03:39 WIB Redaktur : Hiru Muhammad
Bisnis layanan pendukung (service provider) Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dinilai sangat potensial. Apalagi total penduduk muslim Indonesia mencapai 215 juta atau 87 persen dari populasi dan 24 persen dari total umat Islam dunia.
Bisnis layanan pendukung (service provider) Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dinilai sangat potensial. Apalagi total penduduk muslim Indonesia mencapai 215 juta atau 87 persen dari populasi dan 24 persen dari total umat Islam dunia.

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Bisnis layanan pendukung (service provider) Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dinilai sangat potensial. Apalagi total penduduk muslim Indonesia mencapai 215 juta atau 87 persen dari populasi dan 24 persen dari total umat Islam dunia. 

 

Terkait

Setiap tahun, dalam kondisi normal, sebanyak 221 ribu jemaah haji asal Indonesia berangkat ke Arab Saudi. Dari jumlah itu, sebanyak 204 ribu merupakan haji reguler dan sisanya 17 ribu haji VIP. Jumlah pendaftar haji, terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga lama antrean terus bertambah. Berdasarkan data Kementerian Agama (Kemenag), antrean terlama dialami calon jemaah haji Kalimantan Selatan, yakni 34 tahun, sedangkan terpendek Maluku, 12 tahun. 

Karena itu bisnis jasa layanan haji tetap menggiurkan bagi konsumen di Tanah Air. Bisnis ini antara lain mencakup pelayanan penginapan (hotel), tiket pesawat, dan land arrangement (LA) segala keperluan haji dan umrah di Tanah Suci, Mekah, Arab Saudi. “Bisnis service provider perjalanan haji dan umrah sangat potensial. Kebutuhan para jamaah yang datang dari berbagai negara ke Tanah Suci hampir tiada henti sepanjang tahun,” tutur Saipul Bahri, president director PT PT Arsy Buana Travelindo (ABT), dalam keterangan tertulisnya, beberapa waktu lalu.

Arab Saudi sempat menutup haji dan umrah pada 2020, akibat pandemi Covid-19. Namun, tahun ini, Arab Saudi telah membuka ibadah haji dari luar negeri, dengan sejumlah persyaratan. Salah satunya vaksinasi Covid-19.  Hal ini,  biasanya akan diikuti  pembukaan kembali ibadah umrah. Selain itu,  Arab Saudi memiliki agenda untuk memacu sektor wisata, di samping minyak mentah. Kuota umrah pun dinaikkan menjadi 30 juta per tahun pada 2030. Ini menjadi fondasi kuat bagi bisnis layanan pendukung haji dan umrah untuk terus bertumbuh. 

Berdasarkan data Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), jumlah jemaah umrah asal Indonesia mencapai 948 ribu pada 2018-2019 atau 1440 hijriah dari total 4,4 juta jemaah. Indonesia berada di posisi kedua penyumbang jemaah umrah dengan kontribusi 21,44 persen, di bawah Pakistan. Saat ini saja, ada sekitar 100 ribu calon jemaah umrah asal Indonesia. 

Untuk melayani peningkatan jumlah jamaah haji dan umrah tersebut, ABT memiliki tiga hotel di Mekah dan Madinah yang berada di lokasi strategis, antara lain Le Meridien, Elaf Mashaer,  Fajr Badee, Mawadah Sofwa, dan  Sham Province. Total kamar yang tersedia mencapai 889 unit per bulan. Di bisnis tiket, ABT menjalin kerja sama dengan Citilink dan Etihad. Adapun di LA, ABT telah berpengalaman selama lima tahun dan memiliki jaringan lokal kuat, termasuk fasilitasnya. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini