Jumat 23 Jul 2021 09:15 WIB

Menelusuri Perjuangan KH Abbas Buntet (II-Habis)

KH Abbas Buntet merupakan generasi keempat yang mengasuh Pondok Pesantren Buntet.

Ilustrasi Pondok Pesantren
Foto:

Organisasi dan Politik

Setelah Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan, Munawir Aziz menjelaskan, KH Abbas masuk ke dalam dunia politik. Pertamatama, dia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang setara dengan parlemen kini. Dia mewakili konstituen Jawa Barat.

Adapun di lingkungan organisasi, KH Abbas turut aktif dalam Nahdlatul Ulama (NU). Di sini, jabatannya adalah anggota Dewan Muhtasyar Pusat dan kemudian rais aam Dewan Syuriah NU Provinsi Jawa Barat.

KH Abbas wafat pada 1946. Jasadnya dikebumikan di kompleks permakaman keluarga di Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Sepanjang hayatnya, almarhum memiliki dua orang istri, yakni Nyai Asiah dan Nyai Zaenah. Anak-anaknya adalah KH Mustahdi, KH Mustamid, KH Abdullah, dan KH Nahduddin Royandi.

Periode setelahnya wafatnya KH Abbas, kepemimpinan Pondok Pesantren Buntet dipegang KH Mustahdi. Sosok ini pernah belajar antara lain pada KH Amin (Babakan Ciwaringin), KH Dimyati (Termas), KH Hasyim Asyari (Tebuireng), dan KH Abdul Manan (Lirboyo). 

 

Setelah KH Mustahdi berpulang ke rahmatullah, tampuk kepemimpinan pesantren ini berturut-turut diberikan kepada (alm) KH Mustamid, (alm) KH Abdullah, dan KH Nahduddin Royandi (sejak 2008). 

sumber : Republika

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement