Rabu 04 Aug 2021 05:09 WIB

Patung Peringatan Ledakan Beirut Tuai Kontroversi

Patung raksasa dari puing ledakan pelabuhan Beirut memicu kemarahan warga

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Esthi Maharani
Patung raksasa yang terbuat dari puing-puing ledakan pelabuhan Beirut musim panas lalu diresmikan
Foto: Reuters
Patung raksasa yang terbuat dari puing-puing ledakan pelabuhan Beirut musim panas lalu diresmikan

IHRAM.CO.ID, BEIRUT -- Sebuah patung raksasa yang terbuat dari puing-puing ledakan pelabuhan Beirut baru saja diresmikan pada Senin (2/8). Karya seni ini ternyata menarik dukungan dari beberapa orang tetapi juga memicu kemarahan di antara orang Lebanon lainnya yang meminta keadilan harus lebih dulu ditegakkan.

Karya seni yang dijuluki "The Gesture" ini adalah ciptaan arsitek Lebanon Nadim Karam, seorang penduduk dan seniman Beirut yang mengatakan keinginannya memberikan penghormatan kepada keluarga para korban ledakan. Patung itu didanai oleh sejumlah perusahaan swasta.

“Anda memiliki raksasa yang terbuat dari abu, bekas luka kota, dan bekas luka orang-orang yang belum sembuh,” kata Karam dilansir dari Alarabiya English, Senin (2/8).

Ledakan pelabuhan Beirut menyebabkan lebih dari 200 orang tewas, ribuan terluka, dan sebagian besar kota hancur.  Satu tahun kemudian, tidak ada pejabat tinggi yang dimintai pertanggungjawaban karena investigasi lokal terhenti.

 

Beberapa kerabat korban menghadiri acara tersebut pada hari Senin, mengatakan Karam berusaha untuk mengklaim bagian dari kota untuk umum.

“Ketika Anda memiliki perusahaan independen yang mendukung proyek tersebut dan membangun proyek semacam itu selama tujuh atau delapan bulan pasti saya akan mendukungnya,” kata Joseph Chartouni, seorang arsitek yang kehilangan ibunya karena ledakan tersebut.

"Bagi saya fakta bahwa itu terbuat dari baja dari situs itu sudah menjadi pernyataan,"tambahnya.

Tetapi yang lain marah pada proyek tersebut, mengatakan seharusnya tidak ada peringatan tanpa keadilan yang ditegakkan. Kampanye media sosial yang mencela Karam dan menuduhnya bekerja sama dengan pemerintah menyebar seminggu sebelum pembukaan.

Rawan Nassif, seorang pembuat film berusia 37 tahun, adalah salah satu dari banyak orang Lebanon yang tersinggung oleh struktur tersebut. Ia mengatakan bahwa ledakan itu tidak boleh dianggap sebagai kenangan.

"Para pembunuh memiliki kekebalan hukum penuh dan kami sudah berpura-pura ada sesuatu di masa lalu dan kami mencoba untuk melampauinya melalui seni," kata Nassif.

“Saya merasa ini adalah TKP yang belum bisa disentuh, dan harus diselidiki, Anda tidak bisa datang dan melakukan acara dari TKP,"jngkaonya.

Tapi Karam membela pekerjaannya. "Semua niat kami positif dan kami tidak memiliki afiliasi dengan partai politik atau politisi mana pun," kata Karam, menambahkan bahwa klaim tentang dia terkait dengan pejabat tinggi adalah salah.  

"Patung itu mencerminkan Beirut dalam kesedihan dan bekas lukanya," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement