Peringatan 9/11 Bangkitkan Kenangan Diskriminasi Arab-AS

Rabu , 08 Sep 2021, 05:13 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Serangan ke menara kembar WTC di New York 11 September 2001
Serangan ke menara kembar WTC di New York 11 September 2001

IHRAM.CO.ID, NEW YORK – Serangan 9/11 yang menewaskan ribuan warga AS berdampak pada masyarakat Arab-Amerika. Hatem Salama Saleh (32 tahun) meninggalkan tempat tinggalnya di Brooklyn pada tahun 2005 untuk bergabung dengan Korps Marinir AS yang berperang di Irak.

 

Terkait

Dia mengaku merasakan dampak dari serangan 11 September 2011. “Saya merasakan efek dari serangan 9/11 karena saya adalah satu-satunya Muslim Amerika di seluruh battalion,” kata Saleh.

Saleh berasal dari lingkungan Bay Ridge, Brooklyn, New York, rumah bagi komunitas Arab-Amerika dari Mesir, Yordania, Palestina, Suriah, dan bagian wilayah Timur Tengah lain. Penduduk setempat merupakan campuran imigran kelahiran asing dan generasi pertama. New York memiliki konsentrasi tertinggi kelompok Arab-Amerika di AS.

Sebelum peristiwa 9/11, diskriminasi sudah menjadi bagian dari kehidupan Enas Salem, seorang Mesir-Amerika berusia 28 tahun yang dibesarkan di Staten Island. Namun, saat melihat menara kembar seketika runtuh, hati Salem terguncang.

Dia tahu semuanya akan berubah dan komunitasnya menjadi sasaran di tanah AS karena penampilannya. “Pada saat itu, saya mengenakan jilbab dan orang-orang akan menariknya di jalan atau melemparkan barang-barang ke arah Anda atau menggunakan segala jenis cercaan rasial,” kata Salem.

Salem menjelaskan bukan hanya orang Arab dan Muslim yang menjadi sasaran melainkan siapa pun yang berkulit cokelat, terlihat berbeda, dan memiliki aksen juga menjadi sasaran. Ketakutan menghantui kelompok Arab-Amerika terutama di New York.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Arab American Institute pada tahun 2002 menemukan lebih dari dua pertiga orang Arab-Amerika percaya mereka telah mengalami profiling sejak 9/11 dan seperlima mengalami diskriminasi.

Banyak orang Arab-Amerika mengingat kebijakan diskriminatif, yaitu Pendaftaran Khusus (Sistem Pendaftaran Masuk-Keluar Keamanan Nasional) yang diluncurkan pada tahun 2002. Kebijakan tersebut mengharuskan pria dalam kategori visa tertentu dari 25 negara yang didominasi Arab dan Muslim untuk melapor ke otoritas AS.

Namun, kebijakan itu sering digunakan untuk menahan orang secara tidak adil. Pendiri Pusat Dukungan Keluarga Arab-Amerika, Emira Habiby Browne, mengatakan beban kerjanya melonjak setelah 9/11 karena banyak keluarga yang mencari perlindungan hukum dan dukungan emosional. Seiring berjalannya waktu, serangan balik terhadap kelompok Arab-Amerika dan Muslim mulai mereda.

Akan tetapi kefanatikan kembali muncul pada tahun 2017. Eks Presiden AS Donald Trump memberlakukan perintah yang melarang perjalanan dari tujuh negara mayoritas Muslim. Tindakan itu dianggap sebagai larangan Muslim.

“Saya datang sebagai imigran dan AS merupakan tempat yang indah. Kemudian kondisinya terbalik karena disinformasi tersebar luas,” ujar Browne.

Karena perkembangan teknologi dan munculnya media sosial, itu membantu memerangai disinformasi tentang orang Arab-Amerika dan Muslim. Saat ini, orang memiliki sumber informasi yang lebih baik tentang Islam.

Meski begitu, Salem menyebut masih ada banyak diskriminasi dan rasisme yang tetap terjadi. Setelah 20 tahun serangan 9/11 terjadi, momen pilu masih membengkas. Direktur Senipr Layanan Hukum dan Strategi Ekspansi di Pusat Dukungan Keluarga Arab-Amerika, Hizam Wahib (43 tahun), mengatakan ketika peringatan 9/11 tiba, banyak komunitas yang mengenangnya.

“Itu memengaruhi semua orang baik Muslim maupun non-Muslim. Jika Anda tidak kehilangan anggota keluarga, rasanya seperti Anda kehilangannya,” ucap dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini