Sabtu 11 Sep 2021 21:38 WIB

Taliban: Seorang Wanita tidak Bisa Jadi Menteri

Taliban: Perempuan Tidak Bisa Menjadi Menteri, Tugas Mereka Melahirkan

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Agung Sasongko
 Wartawan berbicara dengan Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban selama konferensi pers di Kabul, Afghanistan, 06 September 2021. Taliban pada 06 September, mengklaim bahwa pengambilalihan Afghanistan mereka selesai setelah mereka merebut Panjshir, provinsi terakhir yang dikuasai oleh pasukan perlawanan yang menentang Islamis. milisi. Panjshir juga merupakan pusat perlawanan terhadap kelompok Islamis selama rezim Taliban sebelumnya dari tahun 1996 hingga 2001.
Foto: EPA-EFE/STRINGER
Wartawan berbicara dengan Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban selama konferensi pers di Kabul, Afghanistan, 06 September 2021. Taliban pada 06 September, mengklaim bahwa pengambilalihan Afghanistan mereka selesai setelah mereka merebut Panjshir, provinsi terakhir yang dikuasai oleh pasukan perlawanan yang menentang Islamis. milisi. Panjshir juga merupakan pusat perlawanan terhadap kelompok Islamis selama rezim Taliban sebelumnya dari tahun 1996 hingga 2001.

IHRAM.CO.ID, KABUL -- Taliban memastikan perempuan tidak bisa menjabat sebagai menteri. Karenanya, tidak ada perempuan dalam pemerintahan baru Afghanistan.

"Seorang wanita tidak bisa menjadi menteri. Wanita tidak perlu berada di kabinet, mereka harus melahirkan," kata juru bicara Taliban Sayed Zekrullah Hashimi kepada TOLO News.

Baca Juga

Puluhan wanita di Afghanistan telah melakukan aksi protes terhadap Taliban.  Terkait aksi protes tersebut, Zekrullah Hashimi, mengatakan bahwa empat wanita yang berdemonstrasi di jalan-jalan, tidak mewakili wanita Afghanista.

"Perempuan Afghanistan adalah mereka yang melahirkan rakyat Afghanistan, mendidik mereka tentang etika Islam," kata Zekrullah Hashimi.

 

Sementara itu, ada laporan bahwa wanita di Afghanistan dicambuk, dipukul dengan tongkat kejut dan dipukuli karena menggunakan hak mereka. Sebuah badan yang bekerja untuk pemberdayaan perempuan, UN Women, telah menyatakan keprihatinan atas pelanggaran hak-hak perempuan oleh Taliban. UN Women mengatakan, perempuan memiliki hak untuk hidup bebas dari kekerasan.

"Perempuan memiliki hak untuk protes secara damai dan hidup bebas dari kekerasan. Dalam mengambil alih Afghanistan, otoritas Taliban memikul kewajiban untuk menghormati dan melindungi hak-hak ini," kata UN Women. Rizky Jaramaya

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement