Jumat 17 Sep 2021 12:30 WIB

Israel dan Tomat Palestina

Israel menghancurkan sektor pertanian Palestina melalui berbagai kebijakan nyeleneh

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Esthi Maharani
Tomat
Tomat

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Gaza memiliki luas sekitar 365 kilometer persegi dihuni oleh banyak warga yang menggantungkan hidupnya sebagai seorang petani. Dalam serangan 11 hari zionis Israel ke Gaza pada Mei lalu, misil pesawat tempur Israel menargetkan lahan-lahan pertanian di Gaza.

Kementerian Pertanian Palestina menyatakan, serangan itu tidak hanya membuat para petani gagal panen dan mengalami kerugian besar, tetapi juga membuat para peternak kehilangan sumber pakan.

Tidak hanya melalui serangan langsung, Israel juga menghancurkan sektor pertanian melalui berbagai kebijakan nyelenehnya. Pascaserangan, para petani di Gaza dilarang oleh Israel untuk keluar rumah guna merawat lahannya. Alhasil banyak lahan yang akhirnya tidak terawat sebab tidak mendapat siraman air secara berkala.

Petani di Gaza, Suhail al Masri menceritakan, kebun buah persiknya hampir matang saat larangan Israel muncul. Selama pelarangan, Masri tidak pergi ke kebunnya yang berada di wilayah Khan Younis, di Gaza selatan. Dia tidak bisa mengairi tanah atau mengumpulkan hasil panen. Harapannya untuk menikmati panen yang melimpah ruah telah kandas, 80 persen hasil panennya busuk.

Awal Juli lalu, otoritas Israel membuat kebijakan baru terkait ekspor tomat keluar Gaza. Para petani harus mencabut sepal atau mahkota tomat sebelum diekspor. Jika tidak, tomat-tomat tersebut tidak akan diizinkan keluar dari Gaza. Ini sangat merugikan para petani. Sebab, mencabut mahkota tomat satu persatu akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Selain itu, dengan mencabut mahkota tomat, akan membuat buah tersebut membusuk lebih cepat.

"Kami terkejut ketika Israel memerintahkan bahwa tomat-tomat yang akan diekspor harus tanpa mahkota. Tomat tanpa mahkota, artinya buahnya tidak akan berguna untuk konsumen," kata Saleem, salah satu petani di Gaza, dalam keterangan pers Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang diterima, Jumat (17/9).

"Kami pun berhenti mengekspor karena pembatasan yang sangat keras. Pembatasan yang tidak mungkin ini, memiliki arti bahwa Israel tidak ingin produk di Gaza diekspor ke luar," tambah Saleem.

Kementerian Pertanian Palestina menyebut kebijakan Israel mengada-ada, dan hanya bertujuan menghancurkan sektor pertanian tomat. Sebab, pencabutan mahkota tomat tidak sesuai pada standar ilmiah. Tidak ada hubungannya dengan sains, ilmu produksi, teknologi, serta dengan kebersihan dan kualitas tanaman.

General Manager di Kementerian Pertanian Palestina, Nizar Alwhaidi menilai, kondisi iklim di Gaza sejatinya sangat mendukung untuk sektor pertanian. Berbagai jenis tanaman dapat tumbuh dengan subur di tanah Gaza.

Namun, menurut Nizar, menjadi petani di Gaza adalah pekerjaan yang sangat sulit. Sebab, zionis Israel menggunakan sektor pertanian sebagai sarana tekanan untuk mendisiplinkan warga Gaza yang mulai mencoba perlawanan.

"Israel sengaja memukul infrastruktur di sektor pertanian. Dari tiap agresi yang dilakukan, mereka turut menargetkan pertanian. Dari perspektif pribadi saya, kehancuran pertanian adalah kehancuran bagi sistem ketahanan pangan di mana warga Palestina tinggal," jelas Nizar.

Kehancuran sektor pertanian, membuat para petani tidak mampu memenuhi kebutuhan pasokan pangan warga Palestina. Pasokan yang sedikit pun secara tidak langsung menyebabkan harga pangan melonjak. Bagi warga Palestina yang mayoritas adalah keluarga prasejahtera, membeli pangan bisa menjadi salah satu anggaran terbesar keluarganya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement