Imam Besar Al Azhar Minta Ini ke Taliban

Rabu , 13 Oct 2021, 15:43 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Esthi Maharani
Anak-anak perempuan berjalan ke atas saat mereka memasuki sekolah sebelum kelas di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9).
Anak-anak perempuan berjalan ke atas saat mereka memasuki sekolah sebelum kelas di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9).

IHRAM.CO.ID, KAIRO -- Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed Al-Tayeb meminta Taliban memastikan wanita dan anak perempuan di Afghanistan mendapatkan akses penuh pendidikan. Hal ini ia sampaikan dalam unggahannya di Twitter.

 

Terkait

"Islam membebaskan wanita dari kebiasaan bodoh yang merampas hak-hak mereka ataupun melihat mereka sebagai manusia yang tidak sempurna dan tidak memiliki kehendak bebas," kata Sheikh Ahmed el-Tayeb, dikutip di AhlulBayt News Agency, Rabu (13/10).

Unggahan ini ia sampaikan bertepatan dengan Hari Anak Perempuan Internasional. Di hari penting ini, ia menyerukan agar setiap tindakan yang diperlukan bisa diambil, guna menjamin anak perempuan maupun perempuan muda mendapatkan hak mereka yang dilindungi Islam, utamanya atas pendidikan dan martabat.

Pesan itu muncul di tengah laporan Taliban telah membatasi akses perempuan muda dan anak perempuan ke pendidikan, di tahun ajaran baru di Afghanistan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya juga mengimbau Taliban untuk berhenti melanggar janji mereka, yang menyebut mengizinkan perempuan bekerja dan anak perempuan memiliki akses ke pendidikan.

Guterres mengingatkan janji-janji Taliban sejak pengambilalihan kekuasaan untuk melindungi hak-hak perempuan, anak-anak, komunitas minoritas dan mantan pegawai pemerintah. Terutama kemungkinan perempuan bekerja dan anak perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak laki-laki.

“Saya sangat khawatir janji yang dibuat untuk perempuan dan anak perempuan Afghanistan oleh Taliban dilanggar. Kemampuan mereka untuk belajar, bekerja, memiliki aset dan hidup dengan hak dan martabat akan menentukan kemajuan bangsa," kata dia.

Taliban menguasai sebagian besar Afghanistan ketika pasukan AS dan NATO berada di tahap akhir penarikan mereka setelah 20 tahun. Mereka memasuki ibu kota, Kabul, pada 15 Agustus tanpa perlawanan dari tentara Afghanistan atau presiden negara itu, Ashraf Ghani, yang melarikan diri.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini