Jumat 29 Oct 2021 17:39 WIB

Perjuangan Anak Perempuan di Desa Afghanistan ke Sekolah

Desakan yang terjadi membuat Taliban menerima sekolah baru di Desa Salar

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani
Anak-anak perempuan berjalan ke atas saat mereka memasuki sekolah sebelum kelas di Kabul, Afghanistan
Foto: AP/Felipe Dana
Anak-anak perempuan berjalan ke atas saat mereka memasuki sekolah sebelum kelas di Kabul, Afghanistan

IHRAM.CO.ID, SALAR – Mina Ahmed (45 tahun) yang tinggal di desa Salar, Afghanistan masih mengharapkan ketiga putrinya untuk pergi ke sekolah di bawah pemerintahan Taliban. Meskipun sempat khawatir dengan gaya aturan Taliban, ia tetap menyambut era baru perdamaian di bawah Taliban.

Desa Salar yang dihiasi pemandangan pegunungan terletak di Provinsi Wardak. Jaraknya hampir 70 mil dari Kabul. Desakan yang terjadi antara penduduk lokal dengan Taliban membuat Taliban menerima sekolah baru.

Sekolah tersebut didanai oleh bantuan internasional. Namun, hingga kini masih belum jelas apakah sekolah itu menjadi sekolah umum formal menuju pendidikan tinggi, seperti madrasah. Sekolah sudah dibuka sejak dua bulan lalu yang menandai pertama kalinya dalam 20 tahun anak perempuan di desa menuntut ilmu. Karena belum ada bangunan resmi, sekolah berlangsung di ruang tamu guru Qari Wali Khan.

Pada tahun 2020, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai mengerjakan program untuk mendirikan pusat pembelajaran anak perempuan di daerah konservatif dan terpencil. Daerah itu termasuk yang berada di bawah kendali Taliban, seperti Distrik Sayedabad di mana Salar berada.

 

Lawan bicara Taliban awalnya enggan menerima gagasan itu, tetapi kesepakatan akhirnya tercapai pada November 2020. Pendanaan internasional dijamin dengan 35 juta dolar Amerika untuk membiayai 10 ribu pusat pembelajaran.

Program ini memungkinkan anak perempuan tanpa sekolah formal dapat menyelesaikan enam kelas dalam tiga tahun. Setelah selesai, mereka harus siap memasuki Kelas 7. Sayangnya, di sebagian besar distrik, Taliban melarang anak perempuan berusia 12 hingga 17 tahun pergi ke sekolah umum.

Sepuluh tahun yang lalu, Taliban berada di garis depan kampanye mematikan yang menargetkan pejabat pemerintah di Provinsi Wardak. Dua tetua desa menceritakan kematian penembakan Direktur Pendidikan Sayedabad Mirajuddin Ahmed dan pendukung yang vokal terhadap akses pendidikan untuk anak perempuan.

Beberapa sekolah umum perempuan dibakar pada tahun 2007 di provinsi tersebut. Sampai hari ini, tidak ada satu pun yang berdiri. “Jika Taliban tidak mengizinkan anak perempuan pergi ke sekolah ini sekarang, akan ada pemberontakan,” kata Tetua Desa Abdul Hadi Khan.

Sementara itu, penduduk desa Salar menaruh harapan dan kepercayaan pada Wali Khan sebagai guru di sana. “Mereka menaruh kepercayaan pada saya. Mereka mengatakan kepada saya ini adalah kebutuhan dalam masyarakat kita,” kata Wali Khan.

Distrik Sayedabad sebagian besar terdiri dari kelompok etnis Pashtun yang dominan di Afghanistan dan dari sebagian besar Taliban berasal. Agama dan konservatisme merupakan makanan sehari-hari bagi penduduk desa.

Wali Khan mengaku dia menerima perintah khusus dari direktorat pendidikan yang dikendalikan Taliban di Sayedabad untuk memasukkan lebih banyak materi agama dalam kurikulum. Pada akhir Oktober, pejabat Taliban setempat datang mengunjungi Wali Khan. Dengan pertemuan itu, Wali Khan mengatakan kepada pejabat Taliban bahwa anak-anak sangat bekerja keras menuntut ilmu.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement