Pemimpin Tertinggi Taliban Tampil di Publik Pertama Kalinya

Senin , 01 Nov 2021, 13:46 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Agung Sasongko
Dalam foto tak bertanggal ini dari lokasi yang tidak diketahui, dirilis pada 2016, pemimpin Taliban Afghanistan Mawlawi Hibatullah Akhundzada berpose untuk dipotret. Taliban telah merebut kekuasaan di Afghanistan dua minggu sebelum AS akan menyelesaikan penarikan pasukannya setelah perang dua dekade yang memakan biaya.
Dalam foto tak bertanggal ini dari lokasi yang tidak diketahui, dirilis pada 2016, pemimpin Taliban Afghanistan Mawlawi Hibatullah Akhundzada berpose untuk dipotret. Taliban telah merebut kekuasaan di Afghanistan dua minggu sebelum AS akan menyelesaikan penarikan pasukannya setelah perang dua dekade yang memakan biaya.

IHRAM.CO.ID, KABUL -- Pemimpin tertinggi Taliban Mullah Haibatullah Akhundzada akhirnya muncul di depan publik untuk pertama kalinya sejak mengambil kendali Taliban pada 2016. Ia berbicara kepada para pendukungnya di kota selatan Kandahar, tetapi melarang adanya foto ataupun video yang menampilkan sosoknya.

 

Terkait

Para pejabat Taliban hanya membagikan rekaman suaranya yang singkat ketika memberikan pidato di hadapan para pendukungnya. Rekaman tersebut kemudian diunggah di media sosial Taliban. Mereka juga mengklarifikasi bahwa alasan seluruh pidato tidak dapat dibagikan adalah karena tidak direkam dengan benar.

Baca Juga

Akhundzada ditunjuk sebagai pemimpin Taliban sejak 2016 tetapi tetap menjadi sosok yang tertutup, bahkan setelah Taliban berhasil merebut kekuasaan di Afghanistan pada Agustus lalu. Sikapnya yang low profil ini memicu spekulasi tentang perannya dalam pemerintahan baru Taliban dan bahkan rumor kematiannya.

Pada Sabtu (30/10), Akhundzada mengunjungi madrasah Darul Uloom Hakimah untuk berbicara dengan tentara dan muridnya yang pemberani. Di sana, Akhundzada yang disebut sebagai “Amirul Mukminin”, atau panglima umat memberikan pesan keagamaan.

Dilansir dari The Express Tribune, Senin (1/11), pidatonya tidak menyentuh organisasi politik, tetapi mencari ridho Tuhan bagi kepemimpinan Taliban. Ia juga meminta para pengikutnya untuk menjaga akuntabilitas di antara barisan mereka dan menghindari apapun yang tidak diperbolehkan oleh Quran dan Syariah.