Sejak kejadian pembantaian pada 2019 lalu, pimpinan dewan disebut telah menerima ancaman akan diracuni, diperkosa, bahkan dibunuh. Serangan lain yang serupa dengan keadaan saat itu disebut bisa saja terulang kembali.
"Pihak berwenang telah mengkonfirmasi hal ini selama beberapa bulan terakhir, bahkan dalam dua minggu terakhir. Sebagai contoh, komandan polisi Wellington menyadari risiko seperti itu," katanya.
Dewan Islam Wanita juga dikatakan telah berulang kali berupaya menyalakan alarm meningkatkan kebencian dan pelecehan secara daring, dengan melakukan komunikasi bersama pemerintah dan perusahaan media. Namun, platform digital disebut tidak mau atau tidak mampu mengatasi radikalisasi yang menyebar secara daring.