Kemenkes Afghanistan Peringatkan Wabah Kolera di Antara Korban Gempa

Rabu , 29 Jun 2022, 20:13 WIB Reporter :Alkhaledi Kurnialam/ Redaktur : Ani Nursalikah
Bocah laki-laki yang terluka berdiri di depan tempat penampungan darurat setelah gempa bumi di desa Gayan, di provinsi Paktika, Afghanistan, Jumat 24 Juni 2022. Gempa kuat melanda wilayah pegunungan yang berbatu di Afghanistan timur Rabu pagi, meratakan rumah-rumah dari batu dan bata lumpur dalam gempa paling mematikan di negara itu dalam dua dekade, kantor berita pemerintah melaporkan. Kemenkes Afghanistan Peringatkan Wabah Kolera di Antara Korban Gempa
Bocah laki-laki yang terluka berdiri di depan tempat penampungan darurat setelah gempa bumi di desa Gayan, di provinsi Paktika, Afghanistan, Jumat 24 Juni 2022. Gempa kuat melanda wilayah pegunungan yang berbatu di Afghanistan timur Rabu pagi, meratakan rumah-rumah dari batu dan bata lumpur dalam gempa paling mematikan di negara itu dalam dua dekade, kantor berita pemerintah melaporkan. Kemenkes Afghanistan Peringatkan Wabah Kolera di Antara Korban Gempa

IHRAM.CO.ID, KABUL -- Kementerian Kesehatan Afghanistan menyebut ada ribuan orang yang terkena dampak gempa bumi mematikan di Afghanistan Timur membutuhkan air bersih dan makanan dan berisiko terkena penyakit. Lembaga itu juga memperingatkan wabah kolera di wilayah tersebut.

 

Terkait

Sedikitnya 1.000 orang tewas, 2.000 luka-luka dan 10 ribu rumah hancur dalam gempa pada Rabu lalu. Setelah itu kantor kemanusiaan PBB (OCHA) memperingatkan wabah kolera setelahnya menjadi perhatian khusus dan serius.

Baca Juga

 

"Orang-orang sangat membutuhkan makanan dan air bersih," kata juru bicara kementerian kesehatan Afghanistan Sharafat Zaman kepada Reuters, dilansir dari The New Arab, Ahad (26/6/2022).

 

Zaman juga menambahkan para pejabat telah mengelola obat-obatan untuk saat ini tetapi menangani mereka yang kehilangan rumah akan menjadi tantangan. "Kami meminta masyarakat internasional, organisasi kemanusiaan untuk membantu kami untuk makanan dan obat-obatan, yang selamat mungkin terkena penyakit karena mereka tidak memiliki rumah dan tempat tinggal yang layak untuk hidup," katanya.

 

Bencana tersebut merupakan ujian besar bagi penguasa Afghanistan, Taliban yang telah dijauhi oleh banyak pemerintah asing karena kekhawatiran tentang hak asasi manusia sejak mereka menguasai negara itu tahun lalu.

 

Membantu ribuan warga Afghanistan juga merupakan tantangan bagi negara-negara yang telah memberlakukan sanksi terhadap badan-badan pemerintah Afghanistan dan bank, memotong bantuan langsung, yang mengarah ke krisis kemanusiaan bahkan sebelum gempa.

 

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan beberapa negara lain telah mengirimkan bantuan ke daerah-daerah yang terkena dampak, dengan lebih banyak lagi yang akan tiba dalam beberapa hari mendatang.

 

Pemerintahan Taliban Afghanistan menyerukan pencabutan sanksi dan pencabutan pembekuan miliaran dolar aset bank sentral yang disimpan di lembaga keuangan Barat. Di Kabul, rumah sakit yang lebih dulu merawat korban perang telah membuka bangsal mereka untuk korban gempa, tetapi sebagian besar orang tetap berada di daerah yang hancur akibat gempa.

"Rumah kami hancur, kami tidak memiliki tenda ada banyak anak bersama kami. Kami tidak punya apa-apa. Makanan dan pakaian kami semuanya berada di bawah puing-puing," kata Hazrat Ali, mengatakan kepada tim Reuters di Wor Kali, sebuah desa di distrik Barmal yang paling parah terkena dampaknya.

"Saya telah kehilangan saudara-saudara saya, hati saya hancur. Sekarang kami hanya berdua. Saya sangat mencintai mereka," tambahnya. Alkhaledi kurnialam 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini