Senin 10 Jul 2023 08:31 WIB

Jurus Malaysia Agar Biaya Haji Lebih Murah, tak Lagi Lakukan Sholat Arbain Sejak 2018

Jamaah haji Malaysia hanya tinggal enam hari di Madinah.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah
Masjid Nabawi terus berupaya meningkatkan layanan dalam menyambut tamu Allah dari berbagai negara. Layanan tersebut mencakup banyak hal. Hal tersebut diungkap Direktur Pelayanan Jamaah Masjid Nabawi Ahmad Bin Ali Al Johan kemudian menemui Tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Madinah, Sabtu (17/6/2023).
Foto: Agung Sasongko/Republika
Masjid Nabawi terus berupaya meningkatkan layanan dalam menyambut tamu Allah dari berbagai negara. Layanan tersebut mencakup banyak hal. Hal tersebut diungkap Direktur Pelayanan Jamaah Masjid Nabawi Ahmad Bin Ali Al Johan kemudian menemui Tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Madinah, Sabtu (17/6/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sholat arbain merupakan salah satu ibadah yang dilakukan jamaah haji selama tinggal di Madinah. Ibadah ini merupakan sholat wajib berjamaah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi.

Amalan ini awalnya banyak dijalani jamaah dari sejumlah negara, termasuk Indonesia dan Malaysia, serta harus tinggal di Madinah antara delapan sampai sembilan hari. Namun, sejak 2018 Malaysia sudah tidak menerapkan lagi Arbain bagi jemaah haji mereka.

Baca Juga

"Sejak 2018, kita tidak ada arbain. Ini bagian upaya mengurangi biaya di Madinah,” ujar Direktur Eksekutif Haji pada Tabung Haji Malaysia Dato Sri Syed Saleh, dalam keterangan yang didapat Republika.co.id, Sabtu (8/7/2023).

Hal ini ia sampaikan saat berkunjung ke kantor Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Makkah di Syisyah. Ia hadir bersama 20 delegasi Tabung Haji Malaysia untuk bertukar pandangan dan pengalaman dengan PPIH Arab Saudi.

 

Menurut Syed Saleh, kuota haji Malaysia berjumlah 31.600 dan tahun ini mendapat tambahan kuota untuk 1.000 jamaah. Seperti Indonesia, pemberangkatan jamaah haji Malaysia terbagi dalam dua gelombang.

“Jamaah hanya tinggal enam hari di Madinah, jadi tidak ada arbain. Kami memang sudah lama tidak ada arbain. Alhamdulillah diterima baik. Tidak ada yang keluhan,” kata Syed Saleh.

Saat kali pertama diberlakukan, ia menyebut hanya sedikit yang komplain. Mereka yang menyuarakan protes umumnya adalah Muslim yang dulunya pernah berhaji.

Masa tinggal jamaah haji Malaysia di Arab Saudi pun cukup panjang. Syed Saleh mengatakan masa tinggal jamaahnya berkisar dari 42, 45, dan 47 hari. Namun, umumnya 42 hari dan sebagian besar di Makkah.

"Pemerintah Malaysia sebenarnya meminta untuk diperpendek lagi. Tapi itu justru akan menjadikan biaya semakin mahal,” ucap dia.

Terkait kemungkinan Indonesia mengikuti Malaysia dengan tidak menerapkan Arbain, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief mengatakan saat ini Kementerian Agama masih memberlakukan Arbain. Hal ini juga berlaku bagi jamaah haji gelombang kedua yang akan berangkat dari Makkah ke Madinah pada 10 Juli 2023.

Namun demikian, pihaknya juga mengusung semangat yang sama dengan Malaysia, memberikan kemudahan bagi jamaah haji. Menurutnya, semangat ini juga sedang diusung pemerintah Saudi melalui kajian Fiqih Taisir (kemudahan fiqih berhaji).

Tema ini dibahas dalam beberapa seminar yang diselenggarakan oleh Arab Saudi. Tidak hanya soal Arbain, kajian Fiqih Taisir juga menyoroti banyak hal, termasuk mabit (menginap) di Muzdalifah dan Mina.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement