Selasa 19 Sep 2023 19:53 WIB

Arab Saudi Galakkan Kampanye Anti-Perundungan di Sekolah

Melalui kampanye ini, siswa diajarkan bentuk penindasan, dampak, dan cara mengatasi.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
Suasana sekolah tatap muka di Arab Saudi, Agustus 2021.
Foto: SPA
Suasana sekolah tatap muka di Arab Saudi, Agustus 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Kementerian Kesehatan Arab Saudi telah meluncurkan kampanye kesadaran anti-perundungan di sekolah-sekolah. Tujuannya adalah menjaga kesehatan mental siswa dan mengurangi insiden intimidasi.

Dilansir Saudi Gazette, Selasa (19/9/2023), melalui kampanye ini, siswa diajarkan bentuk-bentuk penindasan, dampaknya, dan cara mengatasinya. Sementara, orang tua dididik tentang keseriusan penindasan dan peran mereka dalam menghadapi masalah tersebut.

Baca Juga

Kampanye tersebut mengidentifikasi tanda-tanda paling penting yang menunjukkan bahwa seorang siswa sedang ditindas, yang meliputi cedera fisik, prestasi akademik yang buruk, kecemasan dan perubahan suasana hati, serta perubahan kebiasaan makan.

Kementerian tersebut juga mendorong siswa yang menjadi korban perundungan untuk berkomunikasi dengan guru, orang tua, atau siapa pun yang mereka percayai, serta menghindari menanggapi pelaku intimidasi atau sendirian di hadapannya.

 

Kementerian Kesehatan Saudi juga meminta para guru dan kepala sekolah untuk melibatkan siswa dan orang tua serta mendorong mereka untuk berkontribusi dalam upaya memerangi penindasan.

Di sektor pendidikan, Arab Saudi juga meluncurkan inisiatif bimbingan kejuruan di sekolah dengan tujuan untuk menghubungkan para lulusan sekolah dengan kebutuhan dunia kerja. Inisiatif tersebut diawasi oleh Dana Pengembangan Sumber Daya Manusia yang dikelola pemerintah.

Direktur Dana Pengembangan SDM Arab Saudi, Turki bin Abdullah, mengatakan lembaga tersebut bersama dengan para mitranya berharap dapat meningkatkan konsep bimbingan kejuruan dan mengaktifkannya di sekolah-sekolah negeri dan swasta di Saudi.

Hal itu dilakukan melalui bimbingan para pemandu yang berkualitas untuk menyelaraskan keluaran pendidikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Inisiatif ini diluncurkan setelah upaya serupa diluncurkan pada Agustus tahun lalu di universitas-universitas di kerajaan tersebut bekerja sama dengan 67 institusi pendidikan tinggi.

Ada lebih dari 72 ribu mahasiswa telah memperoleh manfaat dari layanan bimbingan kejuruan. Turki bin Abdullah menambahkan, secara total, lebih dari 1 juta orang telah memanfaatkan program terkait selama delapan bulan terakhir, dengan tingkat kepuasan mereka mencapai 91 persen.

"Bimbingan kejuruan adalah program pengembangan menyeluruh yang dirancang untuk membantu siswa mengadopsi dan menerapkan pilihan pendidikan dan kejuruan yang mencerahkan untuk menentukan karier mereka," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement