Jumat 11 Jun 2021 13:56 WIB

Kandidat Berhijab Tantang Sentimen Anti-Muslim di Prancis

Sara Zemmahi ingin berfokus memerangi diskriminasi

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani
Sara Zemmahi mencalonkan diri sebagai anggota dewan lokal.
Foto: About Islam
Sara Zemmahi mencalonkan diri sebagai anggota dewan lokal.

IHRAM.CO.ID, PARIS – Muslim Prancis Sara Zemmahi telah bergabung dalam daftar korban Islamofobia setelah partai yang berkuasa menarik dukungannya untuk pencalonannya sebagai anggota dewan lokal. Ini semua karena dia berpose menggunakan hijab dalam poster kampanye.

Kini, teknisi laboratorium berusia 26 tahun ini dan tiga kandidat lainnya yang bernasib sama mencalonkan diri sebagai calon independen di kota selatan Montpellier. Slogan mereka adalah “Berbeda tapi bersatu untuk Anda.”

“Kami tidak menyerah,” kata Zemmahi kepada Reuters.

Pemuda Muslim itu muncul di tengah pertikaian nasional soal identitas setelah sayap kanan menggunakan poster hijabnya sebagai bukti bawah Presiden Emanuel Macron lemah dalam melindungi nilai-nilai sekuler Prancis.

Mencalonkan diri sebagai calon independen, Zemmahi mengatakan dia ingin berfokus dalam memerangi diskriminasi. “Ini lingkungan saya, saya lahir di sini. Jilbab tidak menjadi masalah bagi kami berempat,” ujar dia.

Terlepas dari impian Zemmahi, sekularisme Prancis atau Laïcité akan menjadi pusat pertempuran kampanye menjelang pemilihan presiden 2022. Jajak pendapat menunjukkan pemimpin sayap kanan Marine Le Pen akan menjadi lawan terbesar Macron.

“Saat Anda memakai simbol agama di poster kampanye, itu menjadi tindakan politik. Saya lebih suka kandidat kami dan pejabat terpiih kami berbicara kepada semua warga negara,” kata Juru Bicara Partai LaRem Roland Lescure.

Anggota Parlemen LaRem Coralie Dubost menyatakan penyesalannya atas sikap partainya. “Dia harus mendapat tempat di partai kita apakah dia mengenakan jilbab atau tidak,” ujar Dubost.

Dilansir About Islam, Jumat (11/6), Islam melihat hijab sebagai aturan berpakaian yang wajib bukan simbol agama yang menunjukkan afiliasi seseorang. Apa yang Muslimah pilih untuk dipakai adalah topik kontroversial di Prancis, sebuah masyarakat sekuler resmi yang melarang tanda dan simbol agama dalam kehidupan publik.

Pada tahun 2004, Prancis melarang jilbab di sekolah umum dan pada tahun 2010 Prancis menjadi negara Eropa pertama yang melarang burqa, penutup wajah wanita. Sehingga wanita bercadar harus menghadapi pengawasan rutin dalam kehidupan publik.

Pada tahun 2018, Maryam Pougetoux, seorang pemimpin serikat mahasiswa muncul berjilbab selama wawancara di televisi nasional yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Wawancara tersebut meluncurkan polemik serupa yang membuatnya berada di sampul publikasi satir Charlie Hebdo dan menggambarkannya sebagai monyet.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement