REPUBLIKA.CO.ID, PONDOK GEDE-- Kondisi Masjidil Haram yang tengah pada masa pemugaran dan renovasi membuat area untuk tawaf semakin sempit.
Sebelumnya, Masjidil Haram dapat menampung 48 ribu orang jamaah per jam, setelah renovasi kapasitas tersebut berkurang 60 persen menjadi 22 ribu orang saja.
Sementara, kuota jatah haji yang dikurangi hanya sebanyak 20 persen saja disetiap negara. Akibatnya, diprediksi jamaah haji akan sangat padat dan berdesak-desakan ketika bertawaf.
Untuk menyiasati kepadatan, rencananya Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akan mengatur jadwal tawaf. "Saya sudah mendapat info, katanya untuk tawaf akan dijadwal," jelas salah seorang Ketua Regu Kloter 1 Jamaah Haji, Sutriono kepada Republika, Ahad (15/9) via Blackberry Messanger.
Demikian juga untuk mengatur kepadatan jamaah haji di Makkah, penempatan di Madinah lebih diperbanyak. Kloter 1 yang dipimpin Sutriono hingga saat ini masih berada di Madinah. "Insya Allah perkiraan Kamis atau Jumat akan ke Makkah," tulisnya.
Menteri Agama Suryadharma Ali juga mengkhawatirkan persoalan kepadatan jamaah ketika tawaf. Ia telah meminta Kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) atau pimpinan kelompok terbang (kloter) untuk bisa mengatur waktu tawaf.
"Kalau melihat kapasitas berkurang 60 persen tapi hanya dipotong 20 persen, tentu akan membuat lokasi tawaf menjadi sangat padat, karena itu pimpinan rombongan dari KBIH atau pimpinan kloter hendaknya mengatur waktu tawaf agar jangan bersamaan," ujarnya dalam acara pelepasan jamaah haji kloter 8 di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Sabtu (14/9).




