REPUBLIKA.CO.ID,
Masjid Nabawi ada pengumuman dan petunjuk arah bahasa Indonesia.
JAKARTA — Pemerintah Indonesia telah mengajukan permintaan kepada Arab Saudi agar kawasan Masjidil Haram diberikan rambu petunjuk arah dalam bahasa Indonesia. Hal ini untuk mempermudah serta memandu jamaah agar tidak tersesat.
Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Mustafa Al Mubarak kepada Republika, Kamis (19/9), membenarkan perihal permintaan tersebut.
Hanya, kata dia, sampai saat ini penunjuk rambu berbahasa Indonesia baru diterapkan di Madinah. Sementara, di Makkah dan Masjidil Haram masih dalam proses dan diharapkan dalam waktu dekat sudah bisa diterapkan.
“Benar sekali, itu permintaan tahun lalu yang diajukan Pemerintah Indonesia. Kami sudah terapkan itu di Masjid Nabawi di Madinah. Sudah bisa dilihat sekarang, di Masjid Nabawi sudah ada pengumuman dan penunjuk arah berbahasa Indonesia. Insya Allah, dalam waktu dekat ini, kita akan terapkan juga di kawasan Makkah dan Masjidil Haram,” ujar Mubarak selepas membuka acara pembagian hadiah Kuis Rezeki Ramadhan di gedung Atase Agama Kedubes Arab Saudi, Jakarta Pusat, Kamis (19/9).
Wakil Menteri Agama Nasruddin Umar menambahkan, penunjuk arah tersebut memang sangat diperlukan jamaah. Mengingat, kapasitas Masjidil Haram yang semakin sempit saat pemugaran sekarang.
Jika sebelumnya Masjidil Haram dapat menampung 48 ribu orang jamaah per jam, setelah renovasi, kapasitas tersebut berkurang 60 persen menjadi 22 ribu orang.
“Saat ini, itu sudah difasilitasi. Dengan semakin sempit (kawasan Masjidil Haram), justru pembimbing kita lebih intensif,” ujarnya.
Di Makkah, Sektor Khusus Daerah Kerja (Daker) Makkah telah mengamati sejumlah titik kepadatan di Masjidil Haram yang bisa menimbulkan masalah keamanan bagi jamaah calon haji Indonesia.
“Lima hari melakukan pengamatan, saya melihat ada beberapa titik kepadatan yang berpotensi menimbulkan masalah keamanan bagi jamaah,” kata Kepala Sektor Khusus Daker Makkah Husban Abady Mallang, seperti dikutip Media Center Haji di Makkah, Kamis (19/9).
Sektor Khusus adalah satuan Daker Makkah yang dibentuk untuk tujuan khusus, yaitu memberikan pelayanan keamanan kepada jamaah haji Indonesia saat beraktivitas di Masjidil Haram. Mereka terdiri atas personel TNI/Polri.
Pada musim haji tahun ini, kata Husban, tugas sektor khusus cukup berat mengingat situasi Masjidil Haram yang masih dalam proses perluasan.
Kepadatan Masjidil Haram, khususnya pada saat pergerakan jamaah dari area tawaf ke lokasi sa’i, sangat berpotensi menimbulkan masalah. Apalagi, fisik orang Indonesia umumnya kecil dan banyak lansia.
Kepadatan juga berpotensi memunculkan peluang terjadinya tindak kriminal, mulai dari penipuan, pencopetan, pemaksaan, atau sejenisnya.
Tentang hal ini, pihaknya akan berkonsentrasi dalam memantau pergerakan jamaah yang akan masuk dan atau keluar Masjidil Haram.
Dengan 21 personel yang dipimpinnya, Husban akan membentuk dua grup petugas keamanan. Mereka bertugas bergantian selama 24 jam.
“Dua personel akan ditempatkan di sekitar area tawaf, satu personel di Shafa, dua personel di Marwa, dan masing-masing satu personel di pintu keluar masuk menuju terminal jemputan, yakni Gaza dan Bab Ali,” jelasnya.
Kepala Daker Makkah Arsyad Hidayat mengimbau jamaah tidak membawa uang atau barang berharga lainnya dalam jumlah banyak ketika melaksanakan shalat di Masjidil Haram. Modus yang terjadi setiap tahun, orang tak dikenal itu menawarkan bantuan penitipan tas saat jamaah berwudhu.
Terkait pemotongan kuota 20 persen, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Mustafa Al Mubarak meminta maaf. Menurutnya, ini merupakan kebijakan yang terpaksa dan berat hati. Padahal, pihaknya selalu mengutamakan Indonesia sebagai negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia.
Dubes Saudi menjelaskan, renovasi Masjidil Haram diperlukan karena dua alasan. Pertama, karena kawasan tawaf di Masjidil Haram sudah sempit. Kedua, jumlah jamaah tiap tahun meningkat.




