Rabu 24 Sep 2014 17:11 WIB

Lagi..Jamaah Haji Nonkuota Tersesat di Masjidil Haram

Jamaah haji nonkuota (ilustrasi)
Foto: Heri Ruslan/Republika Online
Jamaah haji nonkuota (ilustrasi)

Oleh: Neni Ridarineni, Makkah, Arab Saudi

 

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Cadak Daeng Nompo (66 tahun) yang berasal dari Malino, Sulawesi Selatan ditemukan tersesat di Masjidil Haram oleh petugas Daker Makkah. Saat ditemukan, ia masih menggunakan pakaian ihram, Selasa malam (23/9) sekitar pukul 23.00.

Dia menggunakan gelang seperti yang dikenakan jamaah haji reguler lainnya. Sesampainya di Daker Makkah dia lalu didata, tetapi ternyata gelang yang digunakan mencurigakan yakni tidak ada kloternya , hanya tertulis JKS dan nama yang tertulis di gelangnya "Musarif Ahmad." Padahal nama asli jamaah haji yang hanya lulusan SD tersebut Cadak Daeng Nompo.

Selasa malam itu  juga, Cadak diantar petugas dan tim MCH untuk mencari penginapannya. Namun setelah dicari-cari sampai Rabu dini hari sekitar pukul 02.00 tak ketemu juga. Akhirnya Cadak yang hanya membawa tas warna hitam slempang merah bertuliskam AWM Tour dibawa kembali  ke Daker Makkah.

Dia mengaku terlepas dari rombongan yang berjumlah lebih dari 10 orang saat thawaf yang kelima. Karena belum tujuh kali, meskipun sendirian Daeng tetap meneruskan thawaf sendiri sampai tujuh  kali. Dia ditemukan oleh petugas saat keluar dari tempat thawaf.

Karena dia belum menyelesaikan sa'i dan tahalul, Cadak diantar oleh Konsultan Bimbingan Ibadah Haji Prof Salman Maggalatung yang kebetulan orang Makassar Rabu (24/9) sekitar pukul 06.00.

''Tadi dia saya ajak untuk memutar Masjidil Haram, ternyata tidak ingat juga di mana tempat tinggalnya karena dia baru sampai Makkah Senin malam (22/9) lalu ke penginapan sebentar menaruh tas dan ganti pakaian ihram. Setelah itu Daeng bersama rombongannya pergi ke Masjid Aisyah (red. Tan'im) untuk miqat, baru ke Masjidil haram. 

Dia mengaku bahwa hajinya itu non kuota dan tidak resmi. ''Waktu membayar saya dijanjikan haji plus. Kalau tahu ini tidak resmi, disuruh membayar murah pun saya tidak mau,''ujarnya.

Dia mulai ditawari sejak tiga tahun yang lalu  dan uangnya ditabung di Bank BNI. Kemudian pada bulan Agustus 2014,  dia mengambil uang di Bank BNI,  lalu ditambahnya lagi untuk membayar biaya untuk ongkos naik haji seluruhnya sekitar Rp 80 juta ke Haji Mahmud,''cerita dia.

''Waktu pelunasan uang saya pergi naik mobil  dan jarak dari rumah ke Makkasar ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam.''ungkap dia.

Daeng sambil mengeluarkan air matanya berkata,''Saya ini dalam kesasaran. Tetapi saya tidak menyesal mengeluarkan uang banyak untuk berhaji. Ini merupakan ujian bagi saya. Insya Allah nanti bisa bertemu dengan rombongan saya,''kata ayah dari empat anak ini. nneni ridarineni

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement