Ahad 05 Oct 2014 20:28 WIB

Ribuan Kendaraan Terjebak Macet di Makkah

Jamaah haji bermalam di Muzdalifah, Makkah, Arab Saudi.
Foto: Antara/Prasetyo Utomo/ca
Jamaah haji bermalam di Muzdalifah, Makkah, Arab Saudi.

Oleh: Zaky Al Hamzah, Makkah, Arab Saudi

 

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Memasuki hari kedua selepas wukuf, Ahad (5/10) pagi waktu arab saudi (WAS), kemacetan di jalan-jalan Kota Makkah belum juga terurai. Ribuan kendaraan masih terlihat terparkir di pinggir jalan, tak bergerak sejak Sabtu (4/10) pagi.

Informasi yang dihimpun dan pantauan langsung ROL di lapangan sejak Sabtu dini hari dan Ahad pagi ini, menunjukkan, kondisi sebagian besar jalanan di Makkah masih macet. Salah satu jalan yang macet total adalah Jalan Masjidil Haram atau mengarah ke Masjidil Haram. Jalan-jalan lain dari dan ke Masjidil Haram, juga dari dan ke Mina sudah macet parah.

Sejak mulut terowongan Mina, bus-bus, mobil-mobil pribadi dan taksi menumpuk menawarkan perjalanan ke Masjidil Haram. Jarak terowongan Mina di Jalan King Fahd, wilayah Syisyah ini, menuju Masjidil Haram sekitar empat kilometer. Namun, jutaan jamaah yang berjalan kaki sejak dari Mina memilih melanjutkan perjalannya tanpa kendaraan. Sebab, mayoritas jalan tidak bergerak sejak Sabtu dini hari.

Kemacetan jalan menuju Baitullah ini sudah terpantau sejak Sabtu (4/10) dini hari atau 10 Dzulhijjah, di saat setelah jutaan umat Islam turun dari Mina menuju Masjidil Haram untuk menjalani thawaf Ifadah (salah satu rukun haji). Jalan delapan jalur di dua arah tersebut macet total dipenuhi jutaan jamaah haji dari berbagai negara.
Sepanjang jalan dari pintu keluar jamarat di Mina sampai jalan di daerah Syisyah (dekat depan pintu terowongan Aziziyah) dipenuhi jutaan jamaah haji yang usai melempar jumrah Aqabah kemudian berjalan kaki menuju Masjidil Haram. Jutaan jamaah haji terlihat menyemut di jalan itu sepanjang sekitar satu kilometer.
Puluhan ribu jamaah haji Indonesia termasuk di antaranya jutaan jamaah haji sedunia tersebut. Banyak jamaah haji Indonesia yang melontar jumrah pada Sabtu dini hari, selanjutnya mengarah ke Masjidil Haram. Namun, ratusan ribu jamaah haji Indonesia yang lain memilih melempar jumrah pada waktu dhuha hingga siang setelah matahari tergelincir karena beralasan lebih afdhal.
  
Di mana-mana,ROL menemui jamaah haji dari berbagai negara di dunia masih mengenakan kain ihram. Terkadang kepala di antara jamaah haji ini sudah plontos yang menandakan mereka telah melakukan tahalul atau mencukur rambut sebagai tanda sudah melempar jumrah aqabah atau melaksanakan thawaf ifadah serta sa'i.
Di sisi lain, ratusan jamaah haji tertidur di pinggir jalan, taman dan trotoar, karena kelelahan. Banyak pula yang mendirikan tenda-tenda kecil. Di Masjidil Haram, jamaah haji yang selesai menjalani thawaf ifadah, terlihat memilih berjalan kaki menuju penginapannya sebelum kembali ke Mina untuk mabit dan melempar tiga jumrah. Jarak antara pintu keluar jamarat dengan Masjidil Haram memang cukup jauh sampai lebih dari tiga km.
Kendaraan taksi, bus atau kendaraan pribadi yang disewa sangat minim. Memang ada puluhan mobil pribadi yang 'mendadak' menjadi 'taksi' atau kendaraan omprengan. Tawar-menawar antar omprengan dan para jamaah dilakukan dalam banyak bahasa seperti Arab, Indonesia, Inggris dan lainnya. Aksi tawar-menawar ini membuat jalan semakin macet, sebab supir tetap melajukan kendaraan dengan pelan, sementara jamaah tampak berlari-lari.
Tragisnya, supir taksi dadakan atau omprengan ini mengenakan tarif selangit. Sopir taksi atau angkutan menolak harga sewa per mobil, tapi per orang. Saat ramai seperti saat ini, mereka menawarkan 50 riyal atau sekitar Rp 150 ribu per jamaah untuk rute Masjidil Haram ke supermarket Bin Dawood, yang dekat dengan pintu masuk Jamarat. Padahal, pada hari normal, tarifnya sekitar 10 riyal atau Rp 30 ribu per jamaah.
Tarif ojek juga mahal. Tarif perjalanan dari Masjidil Haram ke Kantor Misi Haji Indonesia di daerah Syisyah dikenakan 100 riyal per satu perjalanan. "Karena kami yang naik dua orang per satu ojek, tukang ojeknya mengenakan kami 150 riyal," ujar pembimbing haji PPIH, Abdul Kholiq, yang naik ojek bersama temannya dari Masjidil Haram ke Kantor Misi Haji Indonesia.
Setelah tawaf Ifadah dan melontar jumrah Aqabah (ada yang melempar jumrah terlebih dahulu baru thawaf, ada juga yang sebaliknya) di lokasi lempar jumrah (Jamarat), jamaah haji diperbolehkan melepas kain ihram. Sesuai jadwal tahapan menjalani rukun ibadah haji, jamaah haji melontar jumrah Aqabah pada Sabtu kemarin dan pada Ahad ini, mulai melontar ketiga jumrah hingga Se.
Jamaah haji juga wajib melakukan mabit (bermalam/melewatkan tengah malam) di Mina sampai Senin (6/1) besok. Di Mina, jamaah haji wajib melaksanakan mabit yaitu tanggal 10, 11, 12 Dzulhijjah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau tanggal 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani. Jika tidak bermalam di Mina, harus membayar dam (denda).
Akibat kemacetan itu, semua jalan tak bisa dilalui kendaraan bermotor. Ratusan kendaraan bermotor terparkir di pinggir jalan. Ada yang terparkir rapi, namun banyak yang ditaruh begitu saja. Bila perjalanan kendaraan dari Mina hingga Kota Makkah bisa ditempuh hanya 10 menit, pada Ahad (5/10) dini hari, membutuhkan waktu hingga dua jam perjalanan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement