Jumat 07 Nov 2014 16:21 WIB

Keutamaan Arafah (3)

Rep: Hannan Putra/ Red: Chairul Akhmad
Jamaah haji saat melaksanakan wukuf di Arafah.
Foto: Republika/Yogi Ardhi/ca
Jamaah haji saat melaksanakan wukuf di Arafah.

REPUBLIKA.CO.ID, Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tiada hari yang melebihi hari Arafah, karena pada hari itu Allah Azza Wa Jalla memerdekakan hamba pria dan wanita dari neraka. Dan sesungguhnya Dia mendekat, lalu berbangga atas mereka kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Apakah yang mereka kehendaki?” (Sunan Nasa’i: V/251).

Muhammad bin Bakr Al-Tsaqafy bertanya kepada Anas bin Malik, pada tengah hari Arafah, “Apakah yang engkau ucapkan di dalam talbiyah pada hari ini?”

Anas menjawab, “Aku telah menjalani hal ini bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya, di mana dahulu di antara mereka ada yang mengucapkan tahlil dan ada pula yang mengucapkan takbir, lalu tidak satu pun di antara mereka yang menegur temannya (yang berlainan bacaan).” (Sunan Nasa’i: V/251).

Said bin Jubair mengatakan dia bersama Ibnu Abbas tengah berada di Arafah, lalu dia berkata, “Mengapa aku tidak mendengar orang-orang membaca talbiyah?” Said menjawab, “Mereka takut kepada Mu’awiyah.”

Kemudian Ibnu Abbas keluar dari kemahnya, seraya mengucapkan, “Labbaika Allahumma labbaika, labbaika (Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah), sungguh mereka telah meninggalkan surmah (ajaran Nabi SAW)  lantaran kebencian terhadap Ali bin Abi Thalib.” (Sunan Nasa’i: V/253).

Mempersingkat Khutbah di Arafah

Diceritakan dari Salim bin Abdullah, bahwa Abdullah bin Umar pernah mendatangi Hajjaj bin Yusuf pada hari Arafah ketika matahari telah tergelincir (condong ke arah barat). Dia berkata, “Sore hari, jika memang engkau menghendaki sunnah.”

Lalu Hajjaj berkata, “Inikah saatnya?” Abdullah menjawab, “Ya.” Salim berkata, “Maka aku berkata kepada Hajjaj, “Jika engkau ingin menepati sunnah, persingkatlah khutbah dan bersegeralah mengerjakan shalat.’” Kemudian Abdullah bin Umar berkata, “Dia benar,” (Sunan Nasa’i: V/254).

Berdoa di Arafah

Atha’ mengatakan bahwa Usamah bin Zaid pernah membonceng Nabi SAW di Arafah, lalu beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, sehingga untanya menjadi miring dan tali kendalinya terjatuh. Beliau mengambil tali kendali itu dengan sebelah tangannya, sementara beliau tetap mengangkat sebelah tangannya lagi. (Sunan Nasa’i: V/254).

Aisyah berkata, “Kaum Quraisy mengerjakan wukuf di Muzdalifah dan mereka menyebutnya Al-Hums, sementara orang- orang Arab lainnya berwukuf di Arafah. Lalu Allah SWT menyuruh Nabi-Nya agar mengerjakan wukuf di Arafah, kemudian bertolak darinya, maka Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat, “Tsumma afidhu min haitsu afadhannas (Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak) (QS. Al-Baqarah: 199).” (Sunan Nasa’i: V/255).

sumber : Keutamaan Kota Makkah oleh Atiq bin Ghaits Al-Biladi
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement