REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Pemerintah Indonesia melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi masih terus melakukan proses identifikasi jamaah haji yang menjadi korban peristiwa berdesak-desakan di Jalan 204, Mina, Arab Saudi. Indonesia pun enggan ikut berpolemik dalam masalah ini.
Konsul Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Dhamarkirty Syailendra Putra mengatakan, tindakan bijaksana yang perlu dilakukan sekarang ini menemukan warga negara Indonesia (WNI), baik jamaah haji maupun pekerja, yang menjadi korban peristiwa itu. Konjen Jeddah yang turut membantu identifikasi memahami proses ini membutuhkan waktu dan cara yang tidak sederhana.
Selain itu, Kementerian Agama juga tidak boleh mengabaikan ratusan ribu jamaah Indonesia lain yang masih berada di Tanah Suci. Dharmkirty mengatakan, Kemenag melalui PPIH Arab Saudi juga harus fokus menyelesaikan ibadah mereka.
"Fokus menyelesaikan ibadah," ujar dia, seperti dilaporkan wartawan Republika.co.id, Ratna Puspita, langsung dari Makkah, Senin (28/9).
Pemerintah Indonesia juga tidak mau ikut berkomentar mengenai berbagai kemungkinan yang terjadi di Jalan 204 pada Kamis (24/9) lalu. Dharmakirty menyatakan, pemerintah memang mendapatkan informasi dari jamaah bahwa mereka dibelokkan ke Jalan 223 sehingga ikut terjebak di Jalan 204 dengan ribuan jamaah dari negara-negara lain.
Jalan 223 merupakan penghubung antara Jalan King Fahd, yang menjadi rute jamaah haji Indonesia, dan Jalan 204. Dharmakirty menyatakan petugas Arab Saudi di lapangan memiliki hak untuk mengalihkan alur jamaah ke jalur tertentu.
Pemerintah sudah berupaya menelusuri alasan pembelokkan yang menyebabkan jamaah Indonesia turut menjadi korban. Namun, kata dia, Pemerintah Arab Saudi sudah menyatakan akan menginvestigasi pengalihan arus itu.
"Kami tidak ada di lapangan ketika itu, tidak bisa berikan komentar. Kita tunggu saja investigasinya saja kenapa waktu itu dibelokkan," kata dia.




