Selasa 20 Sep 2016 15:05 WIB

Menikmati Susu Unta di Padang Pasir

Susu unta
Foto: IST
Susu unta

Oleh: Wartawan Republika, Didi Purwadi

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Arab Saudi identik dengan keberadaan hewan bernama unta. Namun, sejak bertugas sebagai petugas haji di Daerah Kerja (Daker) Makkah pada awal Agustus lalu, tidak pernah menjumpai adanya hewan berpunuk tersebut. Bahkan, sepanjang mata memandang ketika melewati Padang Arafah pada pekan kedua September, tidak terlihat seekor unta pun.

Namun, pada Ahad (18/9) siang, kami yang tergabung dalam tim Media Center Haji (MCH) akhirnya berkesempatan meliput peternakan unta di Hudaibiyah setelah peliputan prosesi ibadah haji telah melewati puncaknya. Jangan bayangkan peternakan modern yang kandangnya sangat canggih dan higienis. Peternakan unta di Hudaibiyah hanyalah peternakan tradisional dan sederhana di hamparan padang pasir yang tandus dan luas.

Kami meluncur menuju Hudaibiyah yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Masjid al-Haram itu dengan menggunakan mobil minibus. Setelah melewati Masjid Hudaibiyah yang menjadi salah satu titik miqat, kami pun akhirnya bisa menyaksikan beberapa kelompok kawanan unta.

Ketika mobil kami mendekat, penggembala atau penjaga kawanan unta itu langsung menyambutnya dengan teriak-teriakan ajakan agar kami singgah ke peternakan mereka. Aroma kotoran unta langsung menyapa ketika kami turun dari mobil. Kami pun mesti berhati-hati melangkah karena kotoran unta yang kering itu bertebaran di sekitar kandang.

Peternakan unta di Hudaibiyah memang sangat sederhana. Unta-unta hanya dikumpulkan di sebuah kandang terbuka ukuran 15x3 meter, dan hanya dibatasi oleh kawat. Tinggi kawat pembatasnya pun hanya sekitar satu meter. Tidak jauh dari kandang tersebut, ada sebuah tenda lusuh yang menjadi tempat istirahat bagi si penggembala unta.

Ada sekitar delapan kelompok pengembala unta di padang pasir Hudaibiyah siang itu. Masing-masing kelompok menggembala sekitar 17 sampai 20 ekor unta.

"Susu.. susu.. milk.. lima riyal," ujar seorang peternak unta, Ali Ahmad, yang rupanya sudah paham wajah orang Indonesia ketika kami mendekati kandang untanya.

Pria berkulit hitam itu pun langsung berpromosi tentang khasiat susu unta. Kata dia, susu unta bagus untuk pencernaan dan kesehatan tubuh. Kami pun memesan tiga.

Agak miris ketika melihat cara Ali memeras air susu untanya. Susu unta betina semula ditutup kantong kulit agar tidak diisapi oleh anak unta. Baru ketika ada pembeli, kantong penutup susu dibuka dan Ali mulai memeras susu unta betinanya tersebut. Satu dua anak unta pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bisa menyusu kepada induknya. Namun, sesekali Ali mengusirnya agar menjauh.

Hanya dalam waktu sekitar lima menit, Ali kembali dengan membawa susu unta dalam wadah aluminium. Susu disaring, kemudian dituangkan dalam botol berukuran 300 ml. Tiga botol susu unta tersaji. Rasanya? Rasanya seperti susu sapi. Segar, nikmat, dan tidak amis.

Ali tidak hanya menawarkan susu unta, tapi juga menawarkan kencing unta. "Duk.. duk… (maaf) zakar," kata Ali sambil memperagakan gaya orang berpanco untuk menggambarkan khasiat kencing unta yang bisa meningkatkan vitalitas pria. Harga kencing unta enam kali lipat dari harga susu unta, yakni 30 riyal untuk ukuran botol 30 ml. Dia pun mengatakan, air kencing unta tidak najis.

Beberapa jamaah memang memilih tidak meminum susu unta apalagi kencing unta karena alasan higienitasnya. Melihat kandang dan cara memeras susunya, sejumlah orang pasti akan berpikir seribu kali untuk mau meminum susu unta khas padang pasir Hudaibiyah ini. Apalagi, isu MERS sempat merebak dan unta menjadi salah satu penyebar virusnya.

Meskipun demikian, beberapa jamaah tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto bersama hewan berbulu mata lentik itu. Bahkan, ada yang ber-selfie dengan wajahnya nyaris menempel dengan kepala unta.

Peternakan unta di Hudaibiyah memang hanya peternakan sederhana dan cenderung tidak bersih. Namun, menikmati susu unta yang diperas langsung dari untanya dan meminumnya di tengah padang pasir yang tandus, sungguh pengalaman yang luar biasa. Sebuah pengalaman seumur hidup yang mungkin tidak akan terulang lagi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement