Sabtu 31 Dec 2016 10:39 WIB

Kisah Pulau Rubiah Pelabuhan Karantina Haji Terakhir Sebelum Ke Jeddah

Jamaah haji tempo dulu menggunakan angkutan kapal laut (ilustrasi).
Foto: wordpress.com
Jamaah haji tempo dulu menggunakan angkutan kapal laut (ilustrasi).

Belum pas rasanya apabila berwisata ke Kota Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam, tidak menyempatkan diri datang ke Pulau Rubiah di Desa Iboih. Di sana bisa ditemui sisa bangunan asrama haji zaman kolonial karena pulau ini duku menjadi tempa persinggahan terakhir dari kapal jamaah haji yang hendak pergi ke Jeddah.

Kini sisa bangunan tempat karantina haji memang sudah tak terawat. Wisatawan pun lebih menyukai mengamati aneka ikan hias dengan melakukan snorkling atau menikmati taman laut dengan menyelam (diving).

"Pulau Rubiah memang tidak saja dikenal sebagai objek wisata menarik, tapi memiliki nilai sejarah, karena daerah itu untuk pertama kali dibangun Asrama Haji,'' kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sabang Zulfi Purnawati.

Menurutnya, pada tahun 1920-an pulau Rubiah yang artinya pulau 'permata rubi' berfungsi menjadi tempat karantina jamaah haji Indonesia sebelum diberangkatkan dengan kapal ke Tanah Suci.''Saat Pemerintah Belanda pada waktu itu, setiap jamaah haji Indonesia, baik yang mau berangkat dan pulang, harus singgah dulu di Pulau Rubiah,''

Memang, meski Pulau Rubiah merupakan tempat bersejarah, namun pulau ini belum mendapatkan perhatian serius, sehingga sisa bangunan asrama dan karantina haji sudah tidak dapat ditemui lagi Yang ada hanya tinggal sisa bangunan berupa pondasinya saja. Dan bila masih ada sisa bangunan asrama haji era kolonial itu, namun kondisinya memprihatinkan alias kurang perawatan. Akibatnya, bila ada wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut mereka pun merasa mendapati kondisi yang kurang nyaman.

Sebenarnya bila pemerintah setempat mau merawat dan memberdayakan pulau tersebut, potensi wisata sejarah dan alam dari Pulau Rubiah ini cukup menjanjikan. Apalagi bila masyarakat Aceh tahu bila di zaman Perang Aceh dahulu pulau ini juga dipakai pemerintah Kolonial Belanda sebagai tempat untuk menahan para pejuang Aceh.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement