IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Mengubah kepekaan. Begitulah Ali Syariati seorang cendekiawan Muslim asal Iran menekankan akan pentingnya melaksanakan ibadah haji. Menurutnya, ibadah haji bukan hanya sekadar ibadah ritual dengan memakai ihram, melakukan tawaf (mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran), sai (berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah), melempar jumrah (dengan batu kerikil ke tiang jamarah), wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah, lalu bertahalul (memotong rambut).
Bagi Ali Syariati, ibadah haji adalah gambaran kehidupan umat manusia pada masa lalu, sekarang, dan pada masa yang akan datang, yakni di akhirat kelak. Semuanya telah diatur sesuai dengan skenario, yang sutradaranya adalah Allah SWT. Aktor dan aktrisnya adalah Adam, Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar. Dan, tokoh antagonisnya adalah setan. Setting tiap adegan meliputi Masjidil Haram, wilayah Makkah, Shafa dan Marwah, Arafah, serta Mina. Sedangkan, latar waktu pertunjukkannya yaitu siang, malam, dan petang.
Lantas, siapakah aktor utama yang menjadi penentu pertunjukan sukses itu di saat sekarang ini? Tak lain adalah tiap-tiap jamaah haji. Tiap Muslim yang berhajilah yang akan melakukan pementasan ini. Umat Islam yang datang dari penjuru dunia turut bergabung dalam aksi pementasan kolosal tersebut.
Masing-masing mempunyai peran yang sama. Perbedaan suku, warna kulit, dan daerah atau negara tak lantas membedakan lakon yang harus diperankan. Aturan ini sesuai dengan prinsip kesetaraan dan persamaan antarindividu dalam Islam.
Oleh karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan oleh Muslim yang hendak berhaji adalah melepaskan hasrat duniawi dan menggantinya dengan semangat mencari rida Allah. Itulah yang ditekankan Ali Syariati dalam catatan perjalanannya dalam berhaji yang berjudul Al-Faridhah al-Khamisah (Rukun Islam yang kelima, atau haji).
Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris dan Indonesia. Dalam bahasa Inggris berjudul Hajj, sedangkan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Haji atau Makna Haji.




