IHRAM.CO.ID, MAKKAH - Brigjen Dr Muhammad Al-Minshawi, mantan direktur Departemen Investigasi di Makkah, mengatakan, bahwa pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyediakan semua fasilitas dan layanan untuk memastikan bahwa jamaah menjalankan ritual ibadah mereka dengan aman dan nyaman.
Arab Saudi telah menegaskan komitmennya untuk menyediakan semua fasilitas dan layanan kepada semua jamaah umrah dan haji terlepas dari kewarganegaraan dan golongan. "Arab Saudi dengan bangga melayani pengunjung dan jamaah dari semua kategori dan kebangsaan sesuai peraturan administratif," kata Al-Minshawi.
"Ini berhubungan dengan semua jamaah tanpa diskriminasi. Semua umat sama apapun kewarganegaraannya," lanjutnya.
Al-Minshawi menambahkan, bahwa selama shalat wajib, petugas menemukan ratusan ribu jamaah di Masjidil Haram. Karenanya, menjadi hal yang tidak mungkin untuk menyeleksi kerumunan besar dan memeriksa kebangsaan atau identitas jamaah.
Kerajaan telah menegaskan kembali komitmennya dan keberpihakannya untuk menyediakan semua fasilitas dan layanan kepada jamaah umrah Qatar, meskipun memutuskan hubungan diplomatik dan konsuler dengan Qatar.
Sebaliknya, jamaah umrah memuji fasilitas yang disediakan oleh pemerintah Raja Salman. Sehingga, jamaah umrah dan pengunjung Masjidil Haram di Makkah membantah rumor yang beredar oleh beberapa media jahat untuk meremehkan usaha Kerajaan tersebut dalam pelayanan jamaah.
"Kami belum mengalami apa yang sedang diedarkan," kata Rasheed Al-Minsawi, seorang jamaah umrah dari Maroko.
"Ini tidak mungkin benar, karena ribuan peziarah dan pengunjung memasuki Masjidil Haram melalui banyak gerbang. Tidak ada yang ditolak masuk atas dasar kewarganegaraan atau warnanya," kata Al-Minsawi seperti dikutip di Saudi Gazette (12/6).
Jamaah umrah M Ahmet M (50 tahun) mengatakan, di Masjid Agung Makkah, semua jamaah adalah umat Islam. "Tidak ada yang bertanya dari mana kita berasal saat memasuki gerbang Masjidil Haram karena tidak masalah. Kami datang dari berbagai belahan dunia, dengan hanya satu arah dalam pikiran: Rumah Allah," tutur Ahmet.
Qaed Ali, seorang jamaah dari Yaman, mengatakan, tidak ada yang bertanya kepada dirinya tentang kewarganegaraannya apakah saat masuk atau keluar dari Masjidil Haram.
"Sejak kedatangan, kami telah memasuki dan keluar dari salah satu gerbang Masjid Agung. Kami belum mengalami pemilahan apapun berdasarkan kewarganegaraan atau sekte. Kerajaan menyediakan fasilitas bagi semua umat Islam, terlepas dari kebangsaan atau sekte mereka,” kata Abdulbari Hassan jamaah asal Mesir.
Bahkan, kata dia, pengawal di gerbang Masjidil Haram tidak memeriksa dokumen identifikasi siapa pun. Tugas mereka dibatasi untuk memeriksa tas sebagai tindakan pengamanan. "Tapi, apa yang beredar bahwa beberapa jamaah umrah dilarang memasuki Masjidil Haram Karena kewarganegaraan mereka tidak lain adalah fitnah," tegas Ahmet.




