Kamis 26 Apr 2018 17:33 WIB

Calhaj Diminta tak Sungkan Bertanya Soal Manasik

Calhaj dapat menjaga komunikasi yang baik dengan tetangganya sesama jamaah.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Agus Yulianto
Sejumlah warga mengikuti kegiatan manasik haji (Ilustrasi)
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah warga mengikuti kegiatan manasik haji (Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, YOGYAKARTA -- Gelombang keberangkatan haji akan dimulai pada 16 Juli 2018 mendatang. Kakanwil Kemenag DIY, Muhammad Lutfi Hamid berharap, jamaah calon haji (calhaj) tidak ragu-ragu bertanya jika masih ada yang belum dimengerti.

 

Menurut dia, jamaah calon haji sebelum berangkat pertama-tama harus memastikan mereka mengetahui manasik haji. Karenanya, bagi jamaah yang belum memahami manasik, Kemenag telah menyiapkan pembimbing ibadah haji di kloter-kloter maupun sektor-sektor. "Jika belum paham jangan sungkan bertanya," kata Lutfi melalui rilis yang diterima Republika.co,id, Kamis (26/4).

 

 

Lutfi berharap, jamaah calon haji dapat menjaga komunikasi yang baik dengan tetangganya sesama jamaah. Sebab, dia mengingatkan, bagaimanapun jamaah calon haji akan meninggalkan rumah selama 40 hari.

 

Untuk menumbuhkan sensitivitas sosial, jamaah dirasa perlu bantuan tetangganya untuk membantu mengawasi lingkungan sekitar. Karena itu, kegiatan pamitan haji sebenarnya bukan riya. "Tapi, memang perlu dilakukan untuk menumbuhkan sensitivitas sosial tersebut," ujar Lutfi.

 

Kakanwil turut mengingatkan, agar jamaah menjaga kesehatan, baik sebelum maupun selama berada di Tanah Suci. Dia menyarankan, agar jamaah calon haji memperbanyak minum dan mengonsumsi buah-buahan.

 

"Salah satu hikmah sering berjamaah shalat ke Masjidil Haram ataupun Masjid Nabawi adalah melancarkan sirkulasi darah dan nutrisi makanan serta metabolisme tubuh," kata Lutfi.

 

Terkait pelayanan, dia meminta, jamaah calon haji mengingatkan jika ada kekurangan layanan atau fasilitas, dan tidak memilih menceritakannya ke media sosial. Setelah pulang, jamaah diminta tetap menjadi umat Islam dengan warga negara Indonesia.

 

Jamaah diminta paham jika budaya dan cara pandang keagamaan di Arab Saudi bukan kebenaran mutlak. Terlebih, lanjut Lutfi, Islam sebagai rahmatan lil alamin memiliki karakter yang beragam di berbagai belahan dunia.

 

Dikatakan Lutfi, selama di Makkah jamaah akan mendapat jata 40 kali makan selama 30 hari. Hanya saat di Armina jamaah tidak mendapat jatah makan karena kendaraan pengangkut tidak bisa masuk ke wilayah tersebut.

 

Konsumsi untuk jamaah akan menampilkan cita rasa Nusantara yang mengimpor langsung bumbu dari Indonesia. Tahun ini, DIY mendapat kuota sebesar 3.131 orang dengan penentuan kloter yang akan dilakukan setelah tahap kedua pembayaran selesai.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement