Selasa 24 Jul 2018 07:31 WIB

Yang Berkumpul dan Terpisah di Tanah Suci

.

 Petugas menenangkankan Asmia Hadi Hasan, seorang jamaah asal Gowa, Sulawesi Selatan, yang ditinggal wafat ibunya di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, Jumat (20/7).
Foto: Republika/Fitriyan Zamzami
Petugas menenangkankan Asmia Hadi Hasan, seorang jamaah asal Gowa, Sulawesi Selatan, yang ditinggal wafat ibunya di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, Jumat (20/7).

IHRAM.CO.ID, Oleh: Fitriyan Zamzami dari Madinah, Arab Saudi

MADINAH -- Tak bisa lagi kaki Asmia Hadi Hasan menopang tubuhnya. Di atas kursi roda yang didorong petugas, perempuan 50 tahun itu hanya bisa meraung berulang-ulang, “Mamakku… Mamakku…”

Belum berapa lama, pada sore, Jumat (20/7) itu, Hadia Daeng Saming (73 tahun) masih ia gandeng mengantre di pemeriksaan keimigrasian menuju Gerbang Zero Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz. Kini Hadia yang lahir di Tangalla, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu sudah tak ada lagi.

Andi Marolla, petugas kesehatan yang mendampingi rombongan Asmia dari Embarkasi Makassar menuturkan, di atas pesawat Hadia memang sudah tak sehat. Ia sesak nafas dan memang memiliki riwayat bronkitis.

Marolla bersama rekan-rekan petugas kesehatan kemudian memasangkan oksigen dan memberikan pengobatan lainnya. “Dia sempat baikan setelah itu,” kata Marolla di Bandara Madinah.

Hadia juga masih sempat bercanda. Ia meminta diberi uang biar sembuh.

Asmia serta anggota keluarga lain yang mendampingi menanggapi candaan itu. Mereka memberikan lembaran-lembaran riyal Arab Saudi kepada Hadia, diikuti anggota rombongan haji lainnya dari Gowa dan Barru.

Ia juga menolak dipasangi oksigen. Ia kembali ceria setelah pesawat mendarat di Bandara AMA sekitar pukul 13.30. “Sudah sampe kita…” kata Marolla meniru ucapan Hadia.

Tiba di darat, Hadia enggan diangkut dengan ambulans. Ia hanya minta dipapah Asmia mengantre untuk diverifikasi data keimigrasiannya. Di situlah ia ambruk lalu dilarikan ke klinik bandara dan menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 15.00 waktu setempat.

Para petugas PPIH Arab Saudi Daker Bandara mencoba menenangkan Asmia di ruang tunggu bandara tanpa hasil. Ia kemudian diantarkan ke bus untuk berkumpul dengan keluarganya.

Begitu naik, rombongan di bus nomor dua yang akan membawanya ke pemondokan seperti sudah paham apa yang menjelang. Seluruhnya memandang iba Asmia yang langsung menjatuhkan diri ke lantai bus. Tak sedikit ikut menangisi kedukaan Asmia.

photo
Kadaker Bandara PPIH Arab Saudi Arsyad Hidayat (kanan) mengantarkan Asmia Hadi Hasan, seorang jamaah asal Gowa, Sulsel, yang ditinggal wafat ibunya, Hadia Daeng Saming (73 tahun) di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, Jumat (20/7).

Mereka mencoba meraihnya dalam ikhtiar memberikan ketenangan dan kata-kata baik. Saat para penumpang seluruhnya secara serempak membacakan Al Fatihah untuk ibunda Asmia, saya ikut luruh, tak bisa lagi menahan air mata dan sesenggukan tak bisa berkata-kata.

Orang bisa bilang apa saja sama Asmia hari itu. Bahwa tugasnya mengantarkan ibunya ke Tanah Suci sudah pungkas, atau bahwa ibundanya meninggal di wilayah paling mulia di muka bumi. Tapi saya berupaya memahami kematian secara tiba-tiba mereka yang terkasih tak pernah jadi hal yang mudah. Dimana pun, kapan pun. Di Tanah Suci atau di Tanah Air.

Hadia tak sendirian hingga pekan pertama kedatangan jamaah di Tanah Suci tahun ini. Sebelumnya, Sukardi (59), seorang jamaah dari Jakarta Timur juga berpulang tepat di tengah sujudnya pada shalat Ashar di Masjid Nabawi.

Tahulah saya, bahwa ibadah haji adalah perkara hidup dan mati bukanlah isapan jempol. Barangkali ia jadi alasan tradisi mengazankan dan mentahlilkan calon jamaah yang hendak berangkat di Tanah Air.

Zaman dulu, mungkin risiko paling besar dari perjalanan haji adalah lamanya terombang-ambing di lautan dan terjebak penyakit di atas kapal yang memakan waktu berbulan-bulan untuk sampai di Tanah Suci. Kini, waktu antrean berangkat yang menahun bikin banyak jamaah berangkat pada usia lanjut dan tak jarang membawa penyakit.

Artinya, di semua zaman, utamanya buat jamaah dari Tanah Air, pelaksanaan ibadah haji tak hanya dekat dengan kematian sehubungan ritual-ritualnya seperti berkumpul di Padang Arafah yang disebut menyimbolkan Padang Mahsyar tempat semua yang berpulang nantinya dikumpulkan.

Ia juga lekat dengan kematian dalam arti sesungguhnya. Secara umum, ibadah haji adalah sebuah perkumpulan dan pertemuan akbar. Tapi ia juga diimbuhi perpisahan di sana-sini.

Kita tentu mengharapkan seluruh jamaah bisa pulang dan berkumpul lagi dengan keluarga. Membagi kisah-kisah ajaib dan anekdot-anekdot dari Tanah Suci. Yang sudah sepuh, bisa menceritakan soal Ka'bah dan kampung Rasulullah Salallahu’alaihiwasallam sambil memangku dan mengelus rambut cucu-cucu mereka.

Berkisah soal bagaimana mereka bertemu manusia-manusia lain dari berbagai suku bangsa. Menertawakan bersama kisah saat tersesat di Masjid Nabawi atau Masjid al Haram.

Namun, bagi yang sudah takdirnya dijemput Izrail di Tanah Suci bolehlah kita panjatkan doa agar upaya suci mereka mencapai Baitullah diganjar sepantasnya dengan surga. Dikumpulkan kembali dengan orang-orang terkasih yang sudah mendahului. Al Fatihah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement