Jumat 03 Aug 2018 11:11 WIB

Karena Jamaah Bukan Statistika

Setiap jamaah memiliki perjuangan sendiri untuk menginjakkan kaki ke Tanah Suci.

Fitriyani Zamzami
Foto: dok. Pribadi
Fitriyani Zamzami

IHRAM.CO.ID, Oleh: Fitriyan Zamzami dari Jeddah, Arab Saudi

JEDDAH -- Setiap saya bertemu petugas haji dari mancanegara baik di bandara Madinah maupun Jeddah, satu hal yang tak pernah luput mereka tanyakan adalah jumlah jamaah Indonesia yang berangkat tahun ini. Setelah saya beritahu angkanya, yakni 221 ribu jamaah, tak jarang mereka terkesima.

Mereka jadi malas menjawab saat saya tanya balik soal jumlah jamaah dari negara mereka. Lebih kerap dengan gestur yang mengisyaratkan angkanya tak ada apa-apanya dibandingkan jamaah Indonesia.

Reaksi serupa juga mereka tunjukkan saat mengetahui jumlah kedatangan kloter per hari jamaah Indonesia yang lebih kerap menyentuh angka belasan bahkan nantinya bisa dua puluhan. Hingga awal kedatangan gelombang kedua pada Rabu (1/8) siang, nyaris separuh jamaah Indonesia telah tiba di Tanah Suci melalui bandara di Madinah dan Jeddah. Dengan petugas yang mengawal dari daerah, angkanya sudah mencapai 106.106 orang. Mereka tiba dalam 260 kloter dari 508 yang dijadwalkan berangkat dari Tanah Air.

Dari total jamaah itu, yang direkomendasikan rawat jalan sudah mencapai sekitar 22 ribu orang, dan 252 dirujuk ke rumah sakit setempat. Yang berpulang, semoga Allah merahmati mereka, mencapai 19 orang hingga Rabu (1/8). Ribuan lainnya tersesat di Masjid Nabawi dan Masjid al-Haram.

Mereka adalah angka-angka yang besar. Dan dalam jumlah sebegitu banyak, orang per orang bisa hilang maknanya.

photo
Jamaah haji Indonesia tiba di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, Rabu (1/8).

Namun kemudian saya menyaksikan sesuatu yang dilakukan Pak Muhammad Nur, pada Rabu (1/8) siang itu di Gerbang B Bandara King Abdulaziz, Jeddah. Seperti biasanya, Pak Muhammad Nur punya tugas membimbing jamaah seturut kelompok mereka.

Mulai dari arahan menuju bus hingga bagaimana nanti setibanya di pemondokan. Pada gelombang kedua kedatangan ini, pria yang selalu berpeci haji tersebut dapat tugas lain membimbing jamaah membaca niat ihram dan berdoa selepasnya.

Cuaca di Jeddah agak berbeda dengan Makkah dan Madinah. Selain terik matahari, ia juga punya tingkat kelembaban tinggi yang mudah bikin lemas.

Tapi suara Pak Muhammad Nur yang usianya sudah paruh baya itu tetap menggelegar, dikeraskan pelantang yang ia bawa kemana-mana. Sebelum membimbing pembacaan niat ihram, ia biasanya mengingatkan alasan jamaah ada di Tanah Suci.

“Bertahun-tahun Bapak-Ibu menabung dan menunggu hingga bisa sampai ke sini! Meninggalkan orang tua dan anak-anak di kampung halaman!” kata dia di hadapan jamaah.

Saat menyampaikan kata-kata itu, tak peduli sudah berulang-ulang ia katakan di hadapan puluhan rombongan yang berbeda, Pak Muhammad Nur kerap tercekat menahan tangis. Matanya basah penuh air mata.

photo
Petugas membantu jamaah haji Indonesia mengenakan pakaian ihram di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Senin (30/7).

Dan keharuannya biasanya menular. Jangan kata jamaah, saya yang tak ada urusan di situ kecuali menengok-nengok saja kerap tak kuasa menahan air mata. Mau perempuan atau laki-laki, tak sedikit yang luruh oleh orasinya.

Pada saat mendengarnya berorasi, saya teringat dengan kisah-kisah pribadi jamaah-jamaah yang saya temui. Ada yang bekerja serabutan untuk sampai ke Tanah Suci, ada yang perlahan menabung dari hasil bertani, ada yang dari hasil nelayan, banyak yang bahkan belum bisa berbahasa Indonesia. Ada yang harus menemani saat yang terkasih meregang nyawa di Tanah Suci.

Masing-masing jamaah, saya kira memiliki perjuangannya sendiri-sendiri untuk sampai ke Tanah Suci. Dan masing-masing perjuangan tersebut tak semestinya dikerdilkan dengan angka-angka dan statistika.

Para petugas, termasuk saya sendiri, harus berupaya keras melawan perasaan terbiasa dengan kesukaran masing-masing jamaah. Karena bantuan sekecil apa pun yang diberikan, sadar atau tak sadar, bukan sekadar memudahkan jamaah. Mengingat kondisi di Tanah Suci, ia bisa jadi menyelamatkan nyawa yang bersangkutan. Bukan sekadar mencegah tambahan satu angka lagi di statistika.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement