Selasa 07 Aug 2018 14:00 WIB

Pesan Agung di Balik Ritual Haji

seorang manusia penting untuk memahami fungsi dan perannya masing-masing.

Haji
Haji

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Bagi Ali Syariati, ibadah haji adalah gambaran kehidupan umat manusia pada masa lalu, sekarang, dan pada masa yang akan datang, yakni di akhirat kelak. Semuanya telah diatur sesuai dengan skenario, yang sutradaranya adalah Allah SWT.

Aktor dan aktrisnya adalah Adam, Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar. Dan, tokoh antagonisnya adalah setan. Setting tiap adegan meliputi Masjidil Haram, wilayah Makkah, Shafa dan Marwah, Arafah, serta Mina. Sedangkan, latar waktu pertunjukannya, yaitu siang, malam, dan petang.

Lantas, siapakah aktor utama yang menjadi penentu pertunjukan sukses itu di saat sekarang ini? Tak lain adalah tiap-tiap jamaah haji. Tiap Muslim yang berhajilah yang akan melakukan pementasan ini. Umat Islam yang datang dari penjuru dunia turut bergabung dalam aksi pementasan kolosal tersebut.

Masing-masing mempunyai peran yang sama. Perbedaan suku, warna kulit, dan daerah atau negara tak lantas membedakan lakon yang harus diperankan. Aturan ini sesuai dengan prinsip kesetaraan dan persamaan antarindividu dalam Islam.

Karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan oleh Muslim yang hendak berhaji adalah melepaskan hasrat duniawi dan menggantinya dengan semangat mencari ridha Allah. Itulah yang ditekankan Ali Syariati dalam catatan perjalanannya dalam berhaji yang berjudul Al-Faridhah al-Khamisah (rukun Islam yang kelima atau haji).

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris dan Indonesia. Dalam bahasa Inggris berjudul Hajj, sedangkan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Haji atau Makna Haji.

Mengubah kepekaan. Begitulah Ali Syariati seorang cendekiawan Muslim asal Iran menekankan akan pentingnya melaksanakan ibadah haji. Menurutnya, ibadah haji bukan hanya sekadar ibadah ritual dengan memakai ihram, melakukan tawaf (mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran), sai (berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah), melempar jumrah (dengan batu kerikil ke tiang jamarah), wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah, lalu bertahalul (memotong rambut).

Menurutnya, seorang manusia penting untuk memahami fungsi dan perannya masing-masing. Manusia sebagai khalifah di muka bumi berkewajiban melaksanakan segala amanah yang diberikan oleh Allah, termasuk dalam melaksanakan ibadah haji. Bukan hanya sekadar ritual, melainkan juga memahami makna di balik setiap prosesi ibadah haji.

Misalnya, ketika seseorang telah melepaskan pakaiannya kemudian berganti dengan pakaian ihram, seharusnya mereka juga melepaskan seluruh atribut keduniaan untuk mengabdi hanya kepada Allah. Mereka harus tunduk pada aturan yang telah diputuskan.

Di sini juga dapat dipahami bahwa manusia harus berani dan rela melepaskan kedudukan, jabatan, dan semua formalitas di dunia ini di hadapan Allah. Semua manusia sama, berpakaian sama, ibadah yang dilaksanakan juga sama.

Lalu, ketika mereka melaksanakan tawaf, kata Syariati, semestinya manusia, dan umat Muslim khususnya, dapat memahami bahwa dia sedang menjalani putaran waktu yang amat cepat. Karena itu, seorang manusia harus bisa memaksimalkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebab, bila salah, akibatnya akan fatal, yakni akan berhadapan dengan gelombang mahadahsyat yang siap menenggelamkannya.

Demikian pula saat mengerjakan sai, yakni berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah. Ritual lari-lari kecil yang merupakan simbol usaha dari Siti Hajar itu harusnya dipahami sebagai sebuah usaha yang harus dilakukan. Sai adalah perjuangan, demikian tulis Syariati. Yakni, perjuangan atau usaha mencari kehidupan yang diridhai oleh Allah.

Saat melempar jumrah, jamaah haji harus memahami bahwa banyak godaan yang dialami setiap manusia. Karena itu, dengan tegas mereka harus berani menolaknya dengan usaha melempar simbol penggoda tersebut.

Ketika melaksanakan wukuf di Padang Arafah, jamaah haji harus memahami bahwa itu adalah gambaran saat-saat manusia akan dibangkitkan di Padang Mahsyar ketika kiamat terjadi.

Tak ada dapat bisa menolong. Seluruh umat manusia hanya memfokuskan dirinya sendiri. Karena itu, mereka harus banyak merenung, bermunajat, dan memohon ampun kepada Allah atas beragam macam perbuatannya selama di dunia.

Padang Arafah juga merupakan gambaran saat manusia akan ditimbang segala amal perbuatan baik dan buruk. Mereka harus bisa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah.

Maka, ketika semua prosesi ini telah dilaksanakan dan catatan amal diterima, manusia hendaknya segera membersihkan diri dengan bertahalul, yakni memotong rambutnya.

Makna filosofis inilah yang tampaknya diharapkan oleh setiap jamaah haji ketika mereka melaksanakan rukun Islam kelima tersebut. Sebab, tanpa memahami makna di balik ritual tersebut, ibadah yang dilaksanakan pun akan terasa hambar tanpa kesan.

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement