Senin 10 Sep 2018 12:42 WIB

Saat Jamaah Terkenang Makanan dan Pucuk Padi

Semakin dekat waktu kepulangan semakin jamaah semakin rindu kampung halaman.

Jamaah asal Kudus menyantap paket katering dalam perjalanan ke Makkah, Rabu (2/8). Sebanyak 7.000 hingga 9.000 paket disiapkan perhari guna melayani jamaah haji Indonesia di Bandara King Abdulaziz, Jeddah.
Foto: Republika/Fitriyan Zamzami
Jamaah asal Kudus menyantap paket katering dalam perjalanan ke Makkah, Rabu (2/8). Sebanyak 7.000 hingga 9.000 paket disiapkan perhari guna melayani jamaah haji Indonesia di Bandara King Abdulaziz, Jeddah.

Oleh: Fitriyan Zamzami, Jurnalis Republika dari Jeddah

Buat jamaah haji asal Indonesia, masa-masa menjelang kepulangan seperti ini adalah masa-masa penuh kerinduan. Masing-masing jamaah punya hal-hal yang dinantikan sesampainya di Tanah Air.

Buat Taslim, (60 tahun), selain pertemuan dengan istri, tiga anaknya, dan enam cucunya, ia menantikan panen padi yang menjelang. “Saya kemarib di-bel (ditelepon), katanya sudah kuning-kuning pucuknya,” kata dia saat ditemui menjelang kepulangan di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, Ahad (9/9) sore.

Pria asal Sekar Rejo, Burno, Bojonegoro, itu mengatakan memiliki sawah nyaris sehektar di kampung halaman. Hasil panen sawah itu yang mengongkosinya berangkat haji. Tapi bukan rupiah hasil panen yang ia tunggu. “Beras di kampung enak banget. Pakai sayur diasemin, ikan wader yang besar-besar, sama sambel,” ujarnya menuturkan dengan mata berbinar-binar.

Taslim mengaku satu dari sebagian jamaah yang sukar menelan masakan paket katering yang diterima jamaah selama di Tanah Suci. Meski sudah dicoba disesuaikan sesuai cita rasa Tanah Air, lidah Taslim tak mau kompromi. “Begitu dibuka itu paketnya ya langsung tiddak pingin makan,” kata dia.

Selama di pemondokan, menurut Taslim, ia terpaksa menanak sendiri beras yang dibawa dari Tanah Air, mengulek sambel, dan memasak ikan teri dan ikan asin yang ia bawa menggunakan kompor listrik. Ia sendiri yang memasak karena datang tak bersama istrinya.

Sementara selama di Arafah dan tenda di Mina, ia hanya bisa makan nasi putih tanpa lauk yang didorong dengan air atau teh. “Ya lemes, Mas. Namanya juga hanya makan nasi,” kata dia.

Ia paham bahwa pemerintah telah mengupayakan juru masak dan masakan khas Indonesia untuk para jamaah. Meski begitu, seturut selera Taslim, tetap saja belum pas. “Kalau di kampung ada asinnya, ada pedesnya,” kata dia.

Mursidi (60), rekan sekloter Taslim dari Sekar Rejo, Bojonegoro meledek kesulitan rekannya tersebut. “Enak-enak saja sebenarnya, makanannya. Memang orang satu ini saja yang susah makannya,” kata Mursidi. Taslim membalas, Mursidi memang dari sananya “gamesan”, istilah tempatan Bojonegoro yang artinya makan apa saja masuk.

Yang susah makan memang bukan hanya Taslim saja. Eviani (50 tahun) dari Sukoharjo, Jawa Tengah juga merasakan serupa. “Kalau lauknya kadang enak, kadang biasa. Tapi nasinya susah ditelan,” kata Eviani yang didampingi suaminya hendak bertolak pulang ke Tanah Air dari Bandara Madinah, Ahad (9/9).

Ia mengatakan, untuk menjaga kesehatan dan kekuatan tubuh harus mengonsumsi suplemen seharga Rp 25 ribu sebutir yabg diresepkan dokter dari Tanah Air. “Pernah saya lupa minum, langsung lemes banget di Masjid Nabawi,” ujarnya. Ia juga selalu membawa sereal untuk mengganjal perut saat paket makanan sukar ditelan.

Selain itu, Eviani juga jadi langganan warung makan Indonesia di Madinah. Pulang ke Tanah Air, ia mengatakan sudah tak sabar kembali masakan-masakan khas Indonesia.

Di Tanah Suci, persoalan cita rasa bukan hanya selera. Seturut tuntutan aktivitas fisik ibadah haji, asupan makanan bukan barang sepele. Pada Ahad (9/9) dini hari misalnya, seorang jamaah lansia dari Ciamis harus dituntun dengan kursi roda karena terlampau lemah untuk berjalan kaki sendiri. “Tidak mau makan dari kemarin. Tak selera katanya,” ujar putri jamaah tersebut yang menemani ke Tanah Suci.

Pihak Pelayanan Kesehatan Misi Haji Arab Saudi mengakui, soal cita rasa makanan adalah salah satu faktor penentu sehat tidaknya jamaah. Menurut Kepala Pelayanan Kesehatan Misi Haji Arab Saudi Ehsan A Bouges, soal cita rasa bahkan jadi salah satu faktor penekan angka kematian jamaah. “Karena jamaah yang tidak mau makan berpotensi kelelahan saat menjalani ibadah haji. Penyakit yang diidapnya juga bisa kambuh,” kata Bouges saat ditemui di Jeddah pekan lalu.

Sejumlah jamaah yang pernah yang sudah pernah berangkat ke Tanah Suci mengatakan, makanan yang disajikan berbagI perusaan katering Saudi tahun ini sedianya jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. “Sudah //nggak// ada amisnya,” kata Fauzan (65 tahun), jamaah asal Situbondo yang sempat berangkat haji pada 1996 silam.

Namun, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengakui, banyak jamaah yang meminta makanan berkuah dalam paket katering, khususnya sayur-sayur berkuah, untuk variasi. Tapi menurutnya harus ada kemasan khusus agar tidak tumpah dan makanan jenis tersebut mudah basi.

Bagaimanapun juga keselamatan jemaah harus diutamakan. "Prioritas utama kita adalah higienitas makanan itu, selain selera," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement