Jamaah Haji Merasa Terbantu Sistem Zonasi

Senin , 29 Jul 2019, 13:40 WIB Reporter :Muhammad Hafil/ Redaktur : Hasanul Rizqa
 Ilustrasi Jamaah Haji
Ilustrasi Jamaah Haji

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Selama di Makkah, saya tinggal di pemondokan di belakang Kantor Urusan Haji Indonesia Makkah. Lokasinya ada di kawasan Syisah, sekitar 3,5 kilometer dari Masjidil Haram.

 

Setiap ke Masjidil Haram dari pemondokan atau dari pemondokan ke Masjidil Haram, saya kerap bertemu dengan bahasa-bahasa yang akrab di telinga, yaitu bahasa-bahasa logat Sumatra. Logat keras dari Sumatra Utara, logat Melayu dari Jambi, dan sebagian Riau serta Kepulauan Riau, atau logat yang saya sering dengar di Pasar Tanah Abang, yaitu khas Minangkabau.

Terkait

Terkadang, mereka berbahasa daerah satu sama lainnya di bus Shalawat. Sebagai orang yang pernah tinggal di Sumatra Barat dan Riau, saya sangat akrab dengan logat ini, dan memudahkan saya ketika berkomunikasi dengan mereka.

Memang, hampir semua embarkasi asal Sumatra ditempatkan di kawasan Syisah, yaitu Aceh (BTJ), Medan (KNO), Ba tam (BTH), dan Padang (PDG). Selain embarkasi asal Sumatra, ada juga satu embarkasi yang ditempatkan di sini, yaitu embarkasi Makassar (UPG). Tetapi, dengan logat Bugis dan Makassar pun saya familier karena saya kerap bertugas ke sana.

Sistem zonasi yang mulai diterapkan tahun ini memang dirancang untuk memudahkan pengelompokan jamaah berdasarkan embarkasinya. Tahun-tahun sebelumnya, asal embarkasi ditempatkan terpisah-pisah hingga menyulitkan jamaah asal satu provinsi untuk saling berkunjung.

Ada tujuh zonasi yang diterapkan tahun ini, yaitu, Embarkasi Aceh (BTJ), Medan (KNO), Batam (BTH), Padang (PDG), dan Makassar (UPG) di wilayah Syisyah. Embarkasi Palembang (PLM) dan Jakarta-Pondok Gede (JKG) di wilayah Raudhah.

Kemudian, Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) di wilayah Misfalah. Embarkasi Solo (SOC) di wilayah Jarwal. Embarkasi Surabaya (SUB) di wilayah Mahbas Jin. Selanjutnya, Embarkasi Banjarmasin (BDJ) dan Balikpapan (BPN) di wilayah Rei Bakhsy, lalu embarkasi Lombok (LOP) di wilayah Aziziah.

Tarmidzi (70 tahun), anggota jamaah dari kloter 4 BTH pun mengakui hal yang sama. Menurut dia, pemondokan berdasarkan zonasi membuat dia serasa di kampung halaman. Sebab, dia yang orang Minangkabau, tetapi tinggal di Pekanbaru, bisa saling berbahasa Minang ketika bertemu dengan sesama orang Riau atau jamaah dari Sumatra Barat di bus.

Saya memperkirakan, ke depan, sistem zonasi ini akan dipertahankan, mengingat manfaat yang dirasakan oleh jamaah maupun petugas haji dalam menjalankan tugas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini