Antrean Haji di Turki 25 Tahun, Malaysia 121 Tahun

Rabu , 21 Aug 2019, 07:06 WIB Reporter :Muhammad Hafil/ Redaktur : Muhammad Hafil
Jamaah haji sedang melaksanakan shalat wajib berjamaah menghadap Kabah di Masjidil Haram pada musim haji 1440 H / 2019 M.
Jamaah haji sedang melaksanakan shalat wajib berjamaah menghadap Kabah di Masjidil Haram pada musim haji 1440 H / 2019 M.

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Minat untuk menunaikan ibadah haji dari umat Islam di berbagai negara masih tinggi. Ini dibuktikan dengan lamanya antrean berangkat haji dari sejumlah negara. Di Indonesia misalnya, berdasarkan data Kementerian Agama pada 2019, ada 4 juta umat Islam yang sudah mendaftar haji.

 

Adapun rata-rata antrean nasional adalah 19 tahun. Sementara jika berdasarkan provinsi, lama antrean terpendek ada di tiga provinsi yaitu Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku dengan masa antrean 11 tahun. Sementara, untuk antrean terlama ada di Sulawesi Selatan yang mencapai 29 tahun.

Terkait

Sementara untuk biayanya, pada tahun ini biaya haji Indonesia rata-rata nasional dipatok Rp 35,2 juta atau sekitar 2.481 dolar AS. Namun, jumlah tersebut juga masih mendapatkan subsidi.

Baca Juga

Lalu, bagaimana dengan di negara lainnya? Republika.co.id berkesempatan mengikuti pertemuan diskusi antara petugas haji Indonesia dengan Turki dan Malaysia pada Selasa (20/8) di Kota Makkah, Arab Saudi. Dari pertemuan itu, diketahui lama antrean kedua negara tersebut.

Direktur Haji dan Umrah Diyanet (Direktorat Urusan Keagamaan) Turki, Ramzi Birjan, mengatakan, ada  2,5 juta orang Turki yang mengantre dengan durasi rata-rata 25 tahun. Sementara, untuk Indonesia ada 4 juta jamaah haji yang mengantre dengan rata-rata antrean nasional selama 18 tahun.

“Jumlahnya hanya 2,5 juta kalau dibagi kuota 80 ribu ketemunya sekitar 25 tahun. Jadi lebih panjang antrean Turki dari Indonesia,” kata Ramzi saat bertemu dengan petugas haji Indonesia di Kantor Urusan Haji Indonesia, Makkah.

photo

Direktur Jenderal Penyelenggaran Haji dan Umrah Turki, Ramzi Birjan (kemeja biru) berdiskusi dengan jajaran Kementerian Agama RI di Kantor Urusan Haji Indonesia, Makkah, Selasa (20/8). Kunjungan Ramzi bertujuan untuk mempelajari penyelenggaraan ibadah haji yang dilakukan oleh Indonesia. (Muhammad Hafil/Republika)

Adapun biayanya, mencapai 4.000 dolar AS per orangnya. Jumlah tersebut dibayar penuh oleh jamaah tanpa mendapat subsidi dari pemerintah.  

Sementara, kesempatan berhaji warga Malaysia lebih lama lagi. Karena, dari mulai mendaftar hingga berangkat daftar antreannya mencapai ratusan tahun.  

"121 tahun masa tunggu haji di Malaysia," kata Ketua Rombongan Tabung Haji Malaysia Dato' Sri Syed Saleh Bin Syed Abdul Rahman saat menerima kunjungan petugas haji Indonesia di Kantor Misi Haji Malaysia, Makkah.

Menurut Abdul Rahman, saat ini jumlah calon jemaah yang sudah mendaftar haji melalui Tabung Haji Malaysia sudah mencapai 2,5 juta orang.

Adapun biayanya, sejak 2009, biaya perjalanan haji Malaysia tak berubah hingga sekarang. Yaitu, 9.980 ringgit atau sekitar 2.400 dolar per orangnya dan mendapat subsidi dari tabung haji.

photo

Pertemuan diskusi antara petugas haji Indonesia dan Malaysia di Kantor Misi Haji Malaysia, Makkah, Selasa (20/8) sore.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini