Berapa Harga Sewa Toko Musiman saat Musim Haji?

Rabu , 04 Sep 2019, 21:13 WIB Redaktur : Muhammad Hafil
Toko musiman di sekitar hotel jamaah haji di kawasan Syisah, Makkah.
Toko musiman di sekitar hotel jamaah haji di kawasan Syisah, Makkah.

IHRAM.CO.ID, Oleh Muhammad Hafil dari Makkah, Arab Saudi

 

 

Terkait

MAKKAH -- Masa operasional haji jamaah Indonesia di Makkah akan berakhir pada 6 September 2019 mendatang. Hotel-hotel di sejumlah wilayah Makkah pun sudah terlihat kosong.

Baca Juga

Tidak hanya hotel-hotel yang terlihat kosong, tetapi toko-toko kelontong musiman yang tadinya menjamur di sekitar hotel, juga ikut tutup. Mereka akan buka kembali pada musim haji tahun depan.

Republika.co.id sempat mewancarai para pedagang ini sebelum mereka menutup tokonya. Ustman, seorang pedagang oleh-oleh seperti sajadah, tasbih, dan sorban misalnya, mengaku sangat senang dengan jamaah haji Indonesia.

"Jamaah haji Indonesia bagus. Belinya bagus," kata Ustman, Senin (2/9) kemarin.

Menurut Ustman yang berasal dari Oman itu, orang Indonesia sangat banyak belanja di tempatnya. Meski tak menyebut jumlah keuntungannya selama berdagang, Ustman mengaku bisa mendapatkan keuntungan yang bagus. 

"Insya Allah selepas ini saya bisa beli mobil lagi," kata Ustman.

Menurut Ustman, untuk menjadi pedagang kelontong musiman ini, dirinya diberi izin berdagang selama 40 hari. Selama masa itu, dia harus membayar sewa kepada pihak pemilik toko sebesar 30 ribu riyal. Untuk diketahui, 1 riyal setara dengan Rp 3.800. Artinya, Ustman harus mengeluarkan biaya sewa sebesar Rp 114 juta untuk 40 hari.

Ustman berdagang di wilayah Syisah. Di sini, ada lima hotel yang dihuni oleh jamaah haji Indonesia dan umumnya berasal dari embarkasi Batam (Riau, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat). Kebanyakan, para pedagang itu bisa berbahasa Indonesia.

Sementara, Musa, pedagang musiman lainnya, juga mengaku hal yang sama. Dia harus membayar 30 ribu riyal untuk berdagang selama musim haji 40 hari. 

photo

Toko musiman dikunjungi oleh jamaah haji Indonesia.

Musa yang merupakan keturunan Myanmar dari etnis Rohingya namun lahir dan besar di Arab Saudi ini, tak menyebut berapa keuntungannya. Tetapi, toko Ustman yang berada persis di samping Kantor Urusan Haji Indonesia Makkah ini setiap hari dipenuhi oleh para jamaah haji maupun petugas haji.

Karena, yang dijual adalah bahan-bahan kebutuhan setiap hari. Di antaranya, makanan ringan, mie, buah, sabun, hingga sayur-sayuran.

Menurut Musa, jika dia sudah tidak berdagang di musim haji, dia akan kembali melanjutkan pekerjaan utamanya. Yaitu, sebagai sopir.

Berbeda dengan Ustman dan Musa, Aburababbah, seorang pedagang toko musiman lainnya, mengaku harus membayar 40 ribu riyal untuk berdagang. Namun, dia mendapat waktu lebih lama. Yaitu, 60 hari.

"Sewanya mahal. Tapi jamaah haji Indonesia bagus," kata Musa yang berdagang di kawasan Syisah 2 yang merupakan tempat tinggalnya jamaah asal embarkasi Ujung Pandang (Sulawesi, Maluku, dan Papua).

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini