Selasa 17 Dec 2019 19:52 WIB

Korban Dugaan Penipuan Umrah di Banyumas Alami Kerugian

Total jamaah yang menjadi korban sebanyak 127 orang lebih.

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Nashih Nashrullah
Jamaah umrah di Banyumas mengalami kerugian. Foto Ilustrasi travel umrah dan haji
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Jamaah umrah di Banyumas mengalami kerugian. Foto Ilustrasi travel umrah dan haji

IHRAM.CO.ID, BANYUMAS – Sejumlah warga dari berbagai daerah, diduga menjadi korban penipuan yang dilakukan salah satu mitra dari biro umrah yang berkantor pusat di Jakarta. 

Kasatrekrim Polresta Banyumas, AKP Yudhiawan, mewakili Kapolresta AKBP Wishnu Caraka, membenarkan adanya laporan warga yang merasa tertipu oleh mitra biro umrah tersebut. 

Baca Juga

''Kami masih melakukan penyelidikan kasus itu. Dua orang pengelolanya juga sedang kami cari, karena sudah  meninggalkan rumahnya,'' jelasnya, Senin (16/12).  

Kasus yang diduga penipuan tersebut, diketahui dilakukan pasangan suami-isteri pengasuh pesantren di Desa Kemutug Kidul Kecamatan Baturraden bernama Ningrum dan Rudi. Hingga kemarin, warga yang menjadi korban penipuan masih menyanggongi pesantren tersebut.

''Kami sudah laporkan kasusnya ke polisi, karena kedua orang pengelola mitra biro umrah tersebut sudah menghilang. Di rumahnya sudah tidak ada, sedangkan kalau ditelpon sudah tidak bisa,'' jelas Tari (50), salah seorang warga yang sudah mendaftar umrah.  

Bahkan Tari mengaku, melalui mitra biro umrah yang dikelola Rudi dan Ningrum, dia tidak hanya mendaftar untuk dirinya sendiri. Tapi bersama anggota keluarganya yang berjumlah lima orang.

''Biaya umrah yang saya bayarkan juga tidak murah, tapi sama dengan dengan ongkos program umrah yang ditawarkan biro-biro lainnya. Per orang, dikenakan biaya Rp 30 juta, sehingga saya harus membayar Rp 150 juta untuk keberangkatan seluruh anggota keluarga kami,'' katanya. 

Dia mengaku, sudah melunasi  biaya umrah tersebut sejak Februari 2019 lalu. Awalnya, dia dijanjikan akan berangkat umrah pada Syawal, sehingga bisa berlebaran di tanah suci. Namun jadwal tersebut batal, dan berulang kali dijanjikan namun tidak pernah diberangkatkan. 

''Terakhir saya dijanjikan berangkat 26 November 2019. Namun saat saya tagih lagi, ternyata orangnya malah sudah menghilang,'' katanya.

Suwito (60), korban lainnya, mengaku sudah membayar Rp 53 juta untuk keberangkatan ke tanah suci bersama isterinya. Dia melunasi biaya umrah tersebut, sebelum  Ramadhan lalu karena ingin berlebaran di tanah suci.

''Namun dengan berbagai alasan, kami juga tidak bisa berangkat pada ke tanah suci sebelum lebaran. Kami sudah berulang kali menanyakan kapan kepastian berangkat, sampai akhirnya kedua orang itu menghilang,'' jelasnya. 

Dia juga mengaku sudah melaporkan kejadian yang dialaminya ini ke Polresta Banyumas. Ketua RW I Desa Kemutug Lor, Warsito, mengaku sudah berulang kali mendapat keluhan dari warga yang diduga menjadi korban penipuan warganya. 

Terutama setelah pasangan suami isteri itu meninggalkan rumahnya. ''Ya, kami hanya bisa menyarankan agar lapor ke polisi saja. Saya sendiri tidak tahu kemana keduanya pergi,'' jelasnya.

Dia menjelaskan, sebagai ketua RT dimana kedua pengurus mitra umrah itu tinggal, juga pernah ditawari umrah gratis. Tawaran itu dia terima, namun sampai sekarang juga tidak pernah diberangkatkan ke tanah suci. 

Berdasarkan informasi yang dia terima, ada sebanyak 127 orang yang telah melunasi biaya umrah pada kedua pengelola mitra biro umrah, namun sampai sekarang belum diberangkatkan. ''Kalau dihitung uangnya, mungkin sudah lebih dari Rp 1 miliar, karena setiap peserta umrah paling sedikit membayar Rp 26 juta,'' jelasnya.

Dia juga menyebutkan, mitra biro umrah yang dikelola warganya tersebut diketahui sudah beroperasi cukup lama. Di awal-awal pendiriannya, ada juga yang sudah diberangkatkan ke tanah suci. Namun sejak Februari 2019, tidak pernah ada lagi ada rombongan yang diberangkatkan. n eko widiyatno

.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement