Dubai: Selamat Tinggal Kemewahan?

Rabu , 13 May 2020, 21:43 WIB Redaktur : Ani Nursalikah
Dubai: Selamat Tinggal Kemewahan?. Burj Khalifa di Dubai, gedung tertinggi di dunia.
Dubai: Selamat Tinggal Kemewahan?. Burj Khalifa di Dubai, gedung tertinggi di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Di distrik Marina Dubai yang mewah, kapal pesiar putih ditambatkan ke dermaga, tertonggok tak bergerak, seperti nasib banyak perusahaan di balik industri gaya hidup mewah yang dihantam oleh krisis corona.

 

Terkait

Jalan setapak yang meliuk-liuk di sekitar teluk dan kanal buatan yang dulu penuh sesak dengan turis dari Tiongkok, Rusia, dan Inggris, kini sepi. "Hampir 95 persen omzet telah hilang," kata manajer perusahaan penyewaan kapal pesiar.

Baca Juga

Ketika Uni Emirat Arab menghentikan semua penerbangan komersial dan memberlakukan jam malam yang ketat untuk membendung penyebaran virus COVID-19, bisnis perjalanan wisata mengering "tanpa peringatan", kata pria Prancis itu. 

Meski sumber minyaknya tidak sebanyak yang lain, Dubai memiliki sektor ekonomi yang paling beragam di kawasan Teluk, dan berhasil membangun reputasi sebagai pusat keuangan, perdagangan, dan pariwisata yang menarik sekitar 16 juta pengunjung per tahunnya.

Sektor jasa di kosmopolitan ini didorong oleh ratusan ribu orang pekerja asing, mulai dari pekerja migran yang super kaya hingga berpenghasilan rendah yang hidup di belakang layar kehidupan kelas atas.

Ketidakpastian membayang

Bersama-sama, mereka telah membantu menciptakan dan mengoperasikan kota yang penuh dengan distrik perkantoran berkilauan serta pusat perbelanjaan megah, resor super mewah dan tempat wisata unik seperti lereng ski dalam gedung dan bar di lantai 124 menara tertinggi di dunia, Burj Khalifa.

Sejauh ini, Uni Emirat Arab mencatat lebih dari 15.000 infeksi virus corona dengan 146 kasus kematian. Beberapa tindakan pembatasan telah dicabut dan banyak bisnis yang sudah dibuka lagi. Namun, untuk pengusaha dan karyawan, ketidakpastian masih membayangi.

Seorang manajer kapal pesiar mengatakan, perusahaannya sekarang diizinkan untuk memulai kembali layanan terbatas tetapi "permintaan sangat sedikit".

Banyak penduduk terlalu takut untuk keluar dari rumah mereka, katanya. Selain itu, ini adalah bulan Ramadan ketika kehidupan sehari-hari cenderung melambat. "Pada tingkatan ini, kita hanya bisa bertahan sampai akhir tahun atau awal Januari," katanya kepada AFP.

Manajer Prancis itu, yang meminta namanya tidak disebutkan, mengatakan perusahaannya telah merugi hingga 80.000 dollar AS sejak krisis corona melanda.

Karyawan telah menerima 50 persen dari gaji mereka pada bulan Maret lalu, dan diminta untuk mengambil cuti yang tidak dibayar pada bulan April.

Lembaga riset Capital Economics mengatakan, dengan utang yang tinggi, sektor real estate yang sedang berjuang, meningkatnya persaingan dari negara tetangga dan ekonomi yang terjerembab, Dubai sangat didera dampak pandemi corona.

"Pemerintahan di seluruh dunia, termasuk Dubai, telah memberlakukan langkah-langkah pembatasan sosial yang ketat dan pembatasan perjalanan untuk meredam penyebaran virus corona," katanya. "Dubai adalah yang paling rentan di Timur Tengah dan Afrika Utara dalam hal kerusakan ekonomi dari wabah tersebut."