Khazanah Islam: Bulan Syawal dan Imam Bukhari

Rabu , 10 Jun 2020, 08:07 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Makam Imam Bukhari
Makam Imam Bukhari

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Penulis Buku dan Traveller

 

Terkait

“Ma’am,” petugas itu memberi isyarat tangan supaya saya segera masuk. Saya bergegas mendekat diikuti tatapan mata kerumunan pengunjung yang penasaran, siapa “orang penting” yang diizinkan masuk ini? Begitu saya dan Lambang masuk, petugas langsung menutup pintu dari dalam.

Saya merasa terhormat karena ruangan dalam makam itu hanya dibuka untuk tamu-tamu negara atau tamu penting lainnya.

Hanya orang-orang yang mendapat izin dari Imam besar yang diperbolehkan ke dalam ruangan yang selalu terkunci itu, sedangkan pengunjung lainnya hanya diperbolehkan berdoa dari luar.

Ruangan itu tidak terlalu luas. Nisan tepat berada di tengah-tengah. Terlihat sederhana berselimut kain hijau yang bertuliskan ayat-ayat Alqur’an.

Saya segera mengambil sikap berdoa sembari menunduk takzim, “Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu… .”

Saat menderaskan doa, sudut mata saya terasa hangat. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menjadikan kuburnya seindah taman surga.

Sebagai orang yang dibesarkan dalam tradisi Muhammadiyah, saya tidak biasa menziarahi makam. Kecuali makam Rasulullah SAW di Madinah dan makam Papi saya di Solo.

Namun, dalam perjalanan menyusuri bumi Allah, seringkali Allah perjalanankan saya untuk menyinggahi makam-makam manusia istimewa pengubah dunia.

Saya tak pernah menyangka Allah izinkan saya mengunjungi makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan, dua kali dalam kurun waktu dua tahun ini. MasyaAllah.

Saat bertemu dan dijamu para Imam di kompleks Masjid Imam Bukhari, kepala saya selalu tertunduk ta’zim dan hati saya bergetar.

Berada di hadapan orang-orang alim berilmu yang begitu tawadhu’, terasa betul aura kesalehan mereka. Saya selalu membayangkan, bagaimana rasanya kalau yang ada di depan saya ini adalah Imam Bukhari?

Mungkin mulut saya akan terkunci dan tak berani mengajukan bermacam pertanyaan seperti wawancara yang saya lakukan dengan para imam yang saya temui itu.

                              ******

Bulan Syawal ini adalah bulan yang istimewa bagi Imam Bukhari. Sang penulis kitab “Al Jami'al-Shahih Al Musnad min Haditsi Rasulullah SAW” atau yang lebih dikenal “Shahih Bukhari” ini lahir sekaligus wafat.

Ia lahir di Bukhara, Uzbekistan, pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Sebutan Bukhari merujuk pada kota tempat kelahirannya.

Ayahnya meninggal sejak ia masih kecil. Sang Imam besar dalam pengasuhan ibunya. Di usia enam tahun, ia telah meninggalkan Bukhara menuju Mekkah dan Madinah untuk belajar agama, lalu ke Kufah, Baghdad, Mesir, Damaskus, Homs, dan banyak negeri lain yang disinggahinya.

Di Baghdad, ia bertemu dan sering berdiskusi dengan ulama besar, Ahmad bin Hanbal. Sepanjang perjalanannya itu, ia menemui 80.000 perawi hadis. Tak kurang satu juta hadis dihafalnya. Dari satu juta hadis, sekitar 7.275 disahihkannya ke dalam kitab sering dianggap paling shahih kedua setelah Alqur’an itu.

Imam Bukhari wafat di penghujung Ramadhan, pada malam 1 Syawal 256 H (31 Agustus 870 M), tepat di usia 60 tahun. Dan dimakamkan di Samarkand. Di tempat yang Allah izinkan dua kali saya deraskan doa di atas pusaranya itu.

Tak hanya Imam Bukhari yang lahir di bulan Syawal. Tercatat, sahabat Abdullah bin Zubair juga lahir di Syawal 1 H.Yang istimewa, ia merupakan bayi Muhajirin pertama yang lahir di Madinah. Sekaligus penepis kabar tak sedap yang sempat dihembus-hembuskan.

Syahdan, pada masa itu sempat tersiar kabar kalau seorang tukang tenung Yahudi menyebarkan tenungnya kepada kaum Muslimin sehingga mereka mandul. Kelahiran Abdullah bin Zubair mematahkan isu tersebut.

Berabad kemudian dari belahan bumi yang berbeda juga lahir orang hebat di bulan Syawal. Kâtip Çelebi, seorang ilmuwan, geografer, pustakawan, sekaligus penulis sejarah dari Daulah Utsmani. Ia lahir di Istanbul, 30 Syawal 1017 H. Karya fenomenalnya adalah pembuatan katalog yang terdiri dari 15.000 judul buku, lebih dari 9.500 nama penulis, serta 300 karya ilmiah dan seni.

Tak penting memang terlahir di bulan apa, karena itu bagian dari takdirNya. Yang utama adalah bagaimana mengisi hari-hari kita, hingga melahirkan karya yang melebihi usia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini