Semangat Menerima Semua Ilmu Perlu Ditradisikan

Jumat , 28 Aug 2020, 03:14 WIB Reporter :Silvy Dian Setiawan/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Semangat Menerima Semua Ilmu Perlu Ditradisikan (ilustrasi).
Semangat Menerima Semua Ilmu Perlu Ditradisikan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Rektor UIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta, Al Makin mengatakan, semangat menerima semua bidang keilmuan perlu ditradisikan. Hal tersebut ia sampaikan dalam seminar nasional bertema 'Masa Depan Keilmuan Non Linear di Indonesia' yang digelar secara virtual.

 

Terkait

Keilmuan non linear, katanya, harus dikembangkan dan diterapkan. Hal ini dilakukan guna menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa sesuai dengan perkembangan zaman yang terus terjadi.

"Kita harus terbuka, harus menghasilkan kreativitas dan menciptakan sesuatu yang baru dengan cara sintesis. Mendikbud sudah deklarasikan tidak menganut monodisiplin ilmu, harus mengambil ilmu dari bidang lain untuk kemajuan bersama," katanya, Rabu (27/8).

Ia menyebut, peradaban Islam berkembang pesat pada masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Di masa dua dinasti Islam tersebut tidak monidisiplin ilmu dan menerapkan prinsip bekerja sama dengan berbagai pihak tanpa memandang bulu dilakukan.

Begitu juga dengan tokoh Islam yang terkenal dengan kejeniusan dan intelektual yakni Ibnu Rusyd. Keilmuan Ibnu Rusyd tidak hanya berasal dari Timur Tengah, namun juga berasal dari bangsa Yunani.

"Peradaban Islam pada masa itu berkembang pesat karena ilmu Islam siap menerima tradisi ilmu dari Yunani, Persia dan tradisi ilmu yang lain. Ilmuwan Muslim membaca semua narasumber yang ada dan tidak monodisiplin ilmu," ujarnya.

Sementara, saat ini peradaban Barat juga semakin maju karena terbuka dan menganut multidisiplin ilmu. Bahkan, kata Al Makin, peradaban Barat lebih maju karena mengkritik orang Barat itu sendiri

"Begitu juga tradisi Islam, jika kita mau maju seperti itu harus mengkritisi budaya kita sendiri dari orang Muslim sendiri," jelasnya.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Iwan Pranoto mengatakan, sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap pendidikan terakhir yakni S1 sebelum tahun 1980-an. Namun, saat ini S2 sudah menjadi tren dalam melanjutkan pendidikan.

Menurutnya, hal tersebut harus disikapi oleh perguruan tinggi. Yakni dengan memfasilitasi ruang yang seluas-luasnya antar akademisi dan antarbidang ilmu.

Selain itu, diskusi terkait pendekatan produksi pengetahuan di masing-masing disiplin ilmu juga harus dilakukan. Sehingga, nantinya dapat melahirkan alumni-alumni yang dapat berkontribusi secara optimal dalam menyelesaikan permasalahan di era disrupsi saat ini.

"Untuk itu, mari kita bergandeng tangan untuk merobohkan tembok pembatas antar fakultas, departemen dan disiplin ilmu. Dan menggelorakan intradisiplin, multidisiplin, cross disiplin, interdisiplin, transdisiplin keilmuan," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini