Kota Tua Diriyah, Awal Pusat Arab Saudi

Sabtu , 10 Oct 2020, 05:32 WIB Reporter :Zainur Mahsir Ramadhan/ Redaktur : Muhammad Hafil
Kota Tua Diriyah, Awal Pusat Arab Saudi. Foto: Kota Tua Diriyah
Kota Tua Diriyah, Awal Pusat Arab Saudi. Foto: Kota Tua Diriyah

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Jika membahas negara Saudi kini, perlu kiranya membicarakan secara historis jauh ke belakang. Salah satunya, adalah tempat kelahiran negara Saudi yang menjadi jalan bagi para peziarah Haji dan pedagang, Diriyah.

 

Terkait

Mengutip Arab News Jumat (9/10), Diriyah, terletak di pinggiran Riyadh, mengelilingi oasis di tepi Wadi Hanifa dan dipenuhi dinding bata lumpur. Meski demikian, Diriyah nyatanya, juga pernah mengelilingi kota gurun yang berkembang pesat dan merupakan pusat budaya dan perdagangan.

Baca Juga

Tak hanya itu, di sekitarnya juga terkenal Benteng di distrik Al-Turaif. Tepat di kawasan utama tersebut adalah daerah asli kekuasaan dari keluarga Al-Saud yang kini berkuasa di Kerajaan.

Lebih jauh, setelah Riyadh ditempatkan sebagai ibu kota negara pada 1745, hal itu juga menjadi titik agar Arab Saudi bersatu. Kembali ke Diriyah, kini, tempat itu menjadi rumah bagi salah satu pengembangan warisan Kerajaan yang dinilai paling ambisius.

photo

Rencana pembangunan Gerbang Diriyah sebagai salah satu destinasi budaya bersejarah yang utama di Arab Saudi. - (Arab News)

Hal itu wajar, jika menilik pada sejarah lengkapnya. Terlebih ketika Diriyah didirikan pada abad ke-15, sekitar tahun 1446 atau 1147 M oleh Mani al-Mraydi, sebuah keluarga Kerajaan Saudi dulu.

Hingga akhirnya pada abad ke-18 Diriyah menjadi kota yang terkenal di Nejd. Mengingat lokasi itu juga menjadi rute perdagangan Saudi yang menghubungkan semenanjung Arab dari barat ke timur dan membantu pengawasan haji ke Makkah.

Di saat yang sama, Muhammad Ibnu Saud lahir. Yang mana, dirinya disebut akan menjadi Al-Miqrin atau penerus Mani al-Mraydi, menjadi Emir Diriyah.

Namun, kemajuan Saud dalam mengelola Diriyah dan wilayah Nejd, utamanya penguasaan Saud atas Mekah dan Madinah, nyatanya mengusik Kesultanan Turki Utsmani. Sehingga memunculkan berbagai pergolakan.

Hingga akhirnya, setelah 1818 M, warga asli Diriyah terpaksa meninggalkan kota. Di antara mayoritas yang meninggalkan Diriyah ke Riyadh, juga adalah al-Saud. Sampai ke abad 20, Diriyah kembali dihuni oleh para nomaden, dan menjadi salah satu warisan penting Kerajaan Arab Saudi kini.

photo

Kota Tua Diriyah - (Wikipedia)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini