Kepala Keuangan Saudi Menyambut Baik Peringkat Sukuk Moody

Sabtu , 10 Oct 2020, 08:06 WIB Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Kepala Keuangan Saudi Menyambut Baik Peringkat Sukuk Moody. Sukuk (ilustrasi)
Kepala Keuangan Saudi Menyambut Baik Peringkat Sukuk Moody. Sukuk (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON -- Para kepala keuangan Arab Saudi menyambut baik cap persetujuan lembaga pemeringkat terbaru untuk program sukuk Kerajaan. Moody's minggu ini memberikan peringkat teratas untuk program obligasi Islam pemerintah dalam denominasi Riyal. 

 

Terkait

Dilansir dari Arab News, Sabtu (10/10), peringkat tersebut digunakan oleh investor untuk mengukur kelayakan kredit negara dan perusahaan. Moody's mengeluarkan peringkat skala global MTN tanpa jaminan senior sementara (P) A1 dan peringkat skala nasional tanpa jaminan senior Aaa.sa untuk program sukuk pemerintah.

Menteri Keuangan Mohammed Al-Jadaan mengatakan peringkat tersebut mencerminkan "kekuatan, fleksibilitas, dan kemampuan ekonomi Kerajaan dalam menghadapi tantangan ekonomi global."

Negara-negara Teluk termasuk Arab Saudi menjual obligasi Islam, yang juga dikenal sebagai sukuk, untuk membantu mendanai pengeluaran publik dan proyek infrastruktur di tengah harga minyak yang lebih lemah dan kejatuhan ekonomi yang sedang berlangsung dari pandemi virus corona.

CEO National Debt Management Center Fahad Al-Saif, mengatakan bahwa langkah Moody's menunjukkan "kedalaman pasar utang lokal dengan memberikan kurva imbal hasil bebas risiko." 

Pengenalan peringkat skala nasional diharapkan dapat semakin menarik investor asing di pasar modal utang dalam negeri, ujarnya.

Laporan pemeringkatan kredit untuk penerbitan domestik merupakan pendapat atas kelayakan kredit emiten publik dan swasta serta kewajiban finansial yang terkait dengan emiten lain dalam suatu negara. 

Peringkat kredit penerbitan domestik berkaitan dengan risiko relatif dalam suatu negara (relatif terhadap peringkat penerbitan negara), sedangkan peringkat kredit sukuk internasional didasarkan pada perbandingan lintas negara.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini