Selasa 27 Oct 2020 05:05 WIB

GAPMMI: Banyak PR Sebelum Produk Halal Go International

Masih banyak pekerjaan rumah untuk menjadi pemain produk halal di tingkat global.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Esthi Maharani
Strategi Akselerasi Pengembangan Kawasan Industri Halal
Foto: ANTARA/Republika.co.id
Strategi Akselerasi Pengembangan Kawasan Industri Halal

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Rahmat Hidayat menuturkan, masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang perlu diselesaikan untuk menjadi pemain produk halal di tingkat global. Di antaranya soal harga, kualitas, dan keamanan pangan.

"Ketiga itu harus bersaing dengan produk-produk dari negara lain. Nah kita masih punya PR di situ, apalagi UMK (Usaha Mikro dan Kecil). Ini PR besar. Ini mengakibatkan perusahaan kita untuk berkonsentrasi di dalam negeri dulu," tutur dia kepada Republika.co.id, Senin (26/10).

Rahmat menjelaskan, perusahaan makanan dan minuman harus fokus di dalam negeri terlebih dulu untuk mengamankan pasar di dalam negeri. "Kalau tidak, siapa yang akan mengisi? Produk impor kan. Maka ini bukan semata-semata harus mengekspor, tetapi pasar dalam negeri itu juga harus diamankan," ujar dia.

Daya saing, lanjut Rahmat, adalah modal untuk mempertahankan pasar di dalam negeri. Jika pasar dalam negeri telah dikuasai, maka ini menjadi modal untuk melakukan ekspor. Untuk itu, dibutuhkan dukungan pemerintah dari sisi fiskal dan nonfiskal.

Bantuan fiskal seperti bantuan modal usaha yang mudah diakses, dan juga insentif perpajakan. Sedangkan bantuan nonfiskal berupa kemudahan dalam mengajukan izin usaha, kemudahan mendapatkan bahan baku dan rendahnya biaya logistik.

"Hal-hal tadilah yang akan menentukan daya saing industri kita. Karena industri halal dan nonhalal sifatnya sama saja sebetulnya, sama-sama butuh daya saing. Cuma yang satu punya nilai lebih yaitu sertifikat halal," ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mendorong UMK di Tanah Air menjadi bagian dari rantai nilai industri halal global untuk memacu pertumbuhan usaha dan peningkatan ketahanan ekonomi umat. Upaya menjadikan UMK bagian dari rantai halal global karena Indonesia masih menjadi konsumen produk halal. Ini terlihat pada 2018 yang lalu di mana angka belanja untuk makanan dan minuman halal mencapai sekitar 214 miliar dolar AS.

Jumlah itu, imbuh Wapres, mencapai 10 persen dari pangsa produk halal dunia dan merupakan konsumen terbesar dibandingkan negara dengan mayoritas Muslim lainnya. Padahal, pasar global memiliki potensi besar yang pada 2017 produk halal dunia mencapai 2,1 triliun dolar AS.

Ma'ruf meyakini, potensi tersebut akan berkembang menjadi 3 triliun dolar AS pada 2023. "Kita harus dapat memanfaatkan potensi halal dunia ini dengan meningkatkan ekspor kita yang saat ini baru berkisar 3,8 persen dari total pasar halal dunia," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement