Irak Ancam AS Saksi Pemimpin Kelompok yang Didukung Iran

Ahad , 10 Jan 2021, 09:34 WIB Reporter :Dwina Agustin / Redaktur : Muhammad Subarkah
 pendukung Pasukan Mobilisasi Populer Syiah Irak menyalakan lilin di lokasi serangan pesawat tak berawak AS yang menewaskan jenderal Iran Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil pemimpin milisi Pasukan Mobilisasi Populer di jalan utama Bandara internasional Baghdad di Baghdad, Irak, 02 Januari 2021. Ratusan Pendukung Pasukan Mobilisasi Populer Syiah Irak berkumpul di lokasi serangan pesawat tak berawak AS pada peringatan pertama pembunuhan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis dan Qasem Soleimani, ketua kelompok Islam Iran Pasukan Quds elit dari Korps Pengawal Revolusi, dan delapan lainnya di bandara internasional Baghdad pada 03 Januari 2020.
pendukung Pasukan Mobilisasi Populer Syiah Irak menyalakan lilin di lokasi serangan pesawat tak berawak AS yang menewaskan jenderal Iran Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil pemimpin milisi Pasukan Mobilisasi Populer di jalan utama Bandara internasional Baghdad di Baghdad, Irak, 02 Januari 2021. Ratusan Pendukung Pasukan Mobilisasi Populer Syiah Irak berkumpul di lokasi serangan pesawat tak berawak AS pada peringatan pertama pembunuhan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis dan Qasem Soleimani, ketua kelompok Islam Iran Pasukan Quds elit dari Korps Pengawal Revolusi, dan delapan lainnya di bandara internasional Baghdad pada 03 Januari 2020.

IHRAM.CO.ID,  BAGHDAD - - Irak mengecam keputusan Amerika Serikat (AS) memberikan sanksi pemimpin kelompok yang didukung Iran. Washington menjatuhkan sanksi pada pada kepala Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak, Faleh al-Fayyad, pada Jumat(7/1).

 

Terkait

"Kami mengkonfirmasi bahwa keputusan itu adalah kejutan yang tidak dapat diterima," kata Kementerian Luar Negeri Irak dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (9/1) seperti dilansir Reuters.

Departemen Keuangan AS menuduhnya memimpin milisi yang menewaskan ratusan pengunjuk rasa dengan amunisi aktif selama tindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah pada 2019. Dia disebut telah berkoordinasi dengan Pengawal Revolusi Iran.

"Itu akan dengan hati-hati menindaklanjuti dengan pemerintahan saat ini dan baru di Washington pada semua keputusan yang dikeluarkan oleh Departemen Keuangan AS terhadap warga Irak," ujar Kementerian Luar Negeri Irak.

PMF mengucapkan selamat kepada Fayyad atas daftar hitam di AS. Kelompok ini mengatakan bahwa dia telah bergabung dengan orang-orang terhormat yang dianggap oleh pemerintah AS sebagai musuh. Dia juga dipuji oleh kelompok Hizbullah Lebanon yang didukung Iran.

Irak adalah sekutu dekat militer AS dan Iran. Teheran telah berjuang untuk mendapatkan pengaruh di Baghdad sejak invasi pimpinan AS pada 2003 menggulingkan diktator Saddam Hussein.

Kedua negara memberikan dukungan militer ke Baghdad untuk melawan pasukan ISIS dari 2014-2017. AS masih memiliki ribuan pasukan di Irak, sedangkan Iran masih mendukung PMF.

AS juga telah membunuh pendahulu Fayyad sebagai pemimpin PMF, Abu Mahdi al-Muhandis, pada tahun lalu. Kematian pemimpin kelompok yang didukung pemerintah ini terjadi dalam serangan pesawat tak berawak di bandara Baghdad, bersama dengan Qassem Soleimani, jenderal operasi terkemuka Iran.

Pada Kamis (6/1), pengadilan Irak mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Presiden AS Donald Trump, sebagai bagian dari penyelidikan pembunuhan Soleimani dan Muhandis. Puluhan ribu pendukung kelompok paramiliter Irak yang didukung Iran turun ke jalan minggu ini untuk menandai peringatan pembunuhan itu. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini